Rabu, 17 Februari 2010

TELEVISI PENERIMA

BAB I

TEORI TELEVISI PENERIMA

1.1 Pendahuluan

Kata televisi berasal dari dua suku kata yaitu TELE dari bahasa Yunani yang berarti jauh dan VISI atau VISION dalam bahasa Inggris yang berarti penglihatan, sehingga kata Televisi dapat diartikan “Melihat Jauh”. Melalui Televisi dapat melihat gambar atau kegiatan dan mendengarkan suara secara bersamaan.

Pada awalnya pesawat televisi dimaksudkan sebagai suatu cara menyiarkan program-program berita ataupun hiburan dalam bentuk gambar, akan tetapi kemampuan untuk memproduksi gambar, suara, tulisan maupun hal lain yang berbentuk informasi visual lainnya telah begitu bermanfaat sehingga sekarang ini pemakaian televisi telah menjadi meluas, bukan hanya menjadi pesawat televisi penerima bertambah fungsi sebagai penampil informasi dari berbagai sumber seperti VCD, Video Game, dan lain sebagainya.

Monitor TV pertama sekali diperkenalkan dengan tampilan Monokrom (Monochrome) dimana gambar direproduksi dengan warna hitam dan putih dengan bayangan abu-abu. Kemudian teknologinya dikembangkan menjadi televisi berwarna nyata menyerupai warna asliya.

Seiring dengan perkembangan teknologi elektronika, komponen televisi yang untuk pertama sekali menggunakan transistor tabung sebagai komponen aktifnya dialihkan menjadi transistor dengan bahan silikon ataupun dengan bahan germanium.

Kehadiran transistor-transistor logika yang dikemas secara terintegrasi atau yang sering disebut dengan IC (Integrated Circuit) maupun Chip, rangkaian televisi dikembangkan dan dirancang dengan menggunakan teknologi chip sehingga rangkaiannya dapat disederhanakan tanpa mengurangi fungsi utamanya.

Setelah para peneliti tabung pada dunia elektronika melakukan riset, tabung gambar pada televisi juga mengalami perubahan pada perbandingan ukuran panjang dan tinggi layar yang semula pada perbandingan panjang dan tinggi 4 : 3 diperbaharui menjadi 16 : 9.

Selain itu tabung gambar juga mengalami kemajuan untuk penampilan dan tentu saja kualitas yakni dengan hadirnya tabung CRT dengan bentuk layar SemiFlat (layar hampir datar) dan akhirnya tabung gambar dengan layar yang datar (True Flat).

Perkembangan dunia elektronika yang tiada hentinya, kini menghadirkan layar gambar dengan menggunakan bahan kristal cair atau yang disebut dengan LCD (Liquid Cristal Display).

1.2. Sistem Televisi

Pada pemancar televisi agar sinyal informasi gambar dan suara dapat dipancarkan melalui media udara, perlu ada modulasi dan demodulasi. Modulasi adalah proses penumang sinyal informasi ke sinyal pembawa (Carrier Wave). Setelah gelombang termodulasi ini dihasilkan maka sinyal informasi gambar dan suara dapat diudarakan.

Pada pesawat televisi penerima terjadi hal sebaliknya dari pemancar siaran televisi, sinyal modulasi yang diterima didemodulasi. Demodulasi adalah proses pemisahaan sinyal informasi dari sinyal pembawa. Sinyal informasi diteruskan ke bagian penguat audio ataupun ke penguat video.

Pada gambar 1.1 ditunjukkan blok diagram rangkaian televisi secara umum.

Gambar 1.1. Blok Diagram Televisi Penerima

Pada pembahasan ini penulis membuat penjelasan tentang kerja dari blok-blok pada gambar 1.1.

1.2.1. Tuner

Tuner atau rangkaian penala digunakan untuk memilih gelombang-gelombang frekuensi yang diterima oleh Antena. Rangkaian Tuner dibentuk dari tiga bagian, yaitu :

· Penguat RF, Berfungsi untuk melakukan penguatan pertama pada gelombang yang masuk dari antena, sinyal ini perlu diperkuat karena selama dalam perambatan sinyal-sinyal modulasi RF telah mengalami redaman. Jika sinyal yang diterima tidak diperkuat terlebih dahulu maka tidak dapat melewati proses selanjutnya karena lemahnya sinyal RF sehingga akan dianggap sebagai noise.

· Osilator Lokal, Berfungsi untuk menghasilkan gelombng osilasi lokal yang akan diberikan ke mixer. Frekuensi dari Osilator Lokal ini dapat dirubah frekuensinya secara eksternal tergantung pada saluran penerimaan yang dipilih. Osilator ini harus dapat sestabil mungkin karena apabila bergeser sedikit saja frekuensinya maka gambar tidak dapat diproduksi lagi.

· AFC, Automatic Frequency Control berfungsi untuk menjaga kestabilan frekuensi yang dihasilkan Osilator Lokal. Pada rangkaian AFC ini bila terjadi pergeseran frekuensi sinyal IF gambar yang dideteksi diumpankan kembali ke Osilator Lokal untuk menstabilkan pergeseran tersebut dengan tegangan umpan balik (Feed Back) yang dihasilkan oleh AFC.

· Mixer, Menggabungkan gelombang yang telah diperkuat dengan sinyal yang dibangkitkan oleh osilator lokal.

1.2.2 Penguat IF Video

Rangkaian ini berfungsi memperkuat sinyal yang dihasilkan oleh tuner hingga 1.000 kali lipat, serta penguatan ini juga perlu dilakukan karena output yang dihasilkan oleh tuner masih dalam kondisi sinyal yang lemah dan sangat tergantung pada jarak pemancar ke penerima, serta bentang alam.

Dapat dikatakan kwalitas dari rangkaian Televisi tergantung dari rangkaian penguat IF-nya, karena bila keluaran penguatan sinyal yang dihasilkan tidak baik maka untuk proses selanjutnya sinyal yang tidak bik inilah yang diproses, bila hal ini terjadi, gambar yang dihasilkan pada tabung CRT jelas dengan kualitas buruk.

Pada rangkaian penguat IF ini mempunyai sistim AGC (Automatic Gain Control). AGC atau kendali penguatan otomatis. Rangkaian AGC ini bertujuan mengendalikan secara otomatis penguatan pada sinyal IF ditingkat menegah pertama dan kedua.

Selain AGC rangkaian penguat IF gambar juga dilengkapi dengan rangkaian “Jebakan “ atau yang sering disebut dengan Trap. Rangkaian ini bertujuan untuk membuang sinyal-sinyal pengganggu yang tidak diperlukan. Rangkaian ini mempunyai dua jebakan yaitu penjebak pembawa suara kanal rendah yang berdekatan serta penjebak pembawa gambar kanal tinggi yang berdekatan.

Jebakan ini digunakan karena pada pemilihan suatu gelombang oleh tuner dan menghasilkan sinyal IF, kemungkinan sinyal ini masih dapat mengandung sinyal pembawa suara atau warna yang dapat merusak gambar yang dihasilkan.

1.2.3 Detektor Video

Bagian berfungsi untuk menyearahkan sinyal pembawa video dari sinyal IF gambar, kemudian memisahkan gelombang pembawa video hingga sinyal keluaran yang dihasilkan oleh detektor video ini merupakan sinyal yang mengandung informasi gambar tanpa unsur lain.

Umumnya rangkaian detektor video menggunakan detektor dioda. Pada prinsip kerjanya rangkaian ini mempunyai tiga bagian penting yaitu :

  • Deteksi Dioda , Rangkaian detektor vidio harus mempunyai karakteristik linearitas yang baik yitu distorsinya harus sangat kecil. Biasanya dibuat dari dioda germanium. Untuk menstabilkan kerja dari detektor dioda diberikan tegangan bias maju sekitar 1 volt, dan juga distrorsi dikurangi ke daerah level rendah.
  • Penjebak, Hal ini diperlukan untuk membuang unsur-unsur pengganggu seperti sinyal suara yang masih terikut atau gelombang dari frekuensi lain yang berdekatan. Hal ini dapat merusak kualitas gambar yang dihasilkan.
  • Detektor Sinkronisasi, Digunakan untuk mendeteksi adanya informasi sinkronisasi yang dibawa oleh sinyal video. Pada metode detektor pulsa sinkronisasi, pulsa sinkronisasi diambil dari pembawa IF gambar dan diberikan ke detektor sinkronisasi, dan sinyal output hasil pendeteksian akan keluar hanya apabila diberikan pulsa sinkronisasi.
  • Penguat Video, Rangkaian penguat video atau yng lazimnya disebut dengan rangkaian RGB Out rangkaian ini mempunyai fungsi utama untuk memperkuat sinyal video yang terbentuk dari komposisi warna, agar dapat diteruskan ke masing-masing katoda warna pada Tabung CRT.

Pada rangkaian penguat video juga terdapat rangkaian ABL (Automatic Brightnees Level) atau pengatur kuat cahaya otomatis yang berfungsi untuk melindungi rangkaian tegangan tinggi dari tegangan muatan lebih yang disebabkan oleh kuat cahaya pada layar kaca.

1.2.4 Reproduksi Warna Gambar

Pada rangkaian ini berfungsi untuk memperkuat sinyal-sinyal gambar yang dihasilkan oleh rangkaian penerima gambar dan suara agar mampu sinyal informasi gambar dapat lewat ke tabung gambar. Rangkaian regenerasi warna ini juga sering disebut rangkaian penguat RGB.

1.2.5 Detektor Audio

Rangkaian ini berfungsi untuk mengolah sinyal informasi IF hasil rangkaian penalaan menjadi informasi audio, blok diagram dari rangkaian suara ini dapat ditunjukkan pada gambar 1.2.

Gambar 1.2. Blok Diagram Rangkaian Audio

  • Deteksi 5,5 MHz, Rangkaian ini berfungsi untuk memisahkan sinyal IF frekuensi tengah 5,5 MHz (suara) dari IF Vidio. Pada gelombang sinyal Televisi berwarna selisih antara frekuensi pembawa gambar dan frekuensi pembawa suara adalah 5,5 MHz, maka oleh rangkaian ini akan mengambil selisihnya dan selanjutnya menghasilkan sinyal IF suara.
  • Penguat IF Suara, Penguat IF suara berfungsi untuk memperkuat sinyal IF suara yang dideteksi oleh rangkaian deteksi 5,5 MHz, agar mendapatkan level yang cukup untuk detektor FM dan juga bertindak sebagai limiter (pembatas)
  • Detektor FM, Sinyal IF yang telah dideteksi dan diperkuat oleh penguat IF suara, maka sinyal ini sudah cukup kuat untuk dideteksi secara FM, sehingga informasi masuk kerangkaian ini dapat diubah menjadi suara, namun suara yang diproduksi masih berbentuk sinyal-sinyal listrik. Belum cukup kuat untuk menggetarkan Loud Speaker.
  • Audio Amplifier, Audio amplifier berfungsi untuk menguatkan sinyal-sinyal audio dari detektor FM yang masih lemah agar dapat diteruskan, dan dapat menggetarkan membran loudspeaker.
  • Loud Speaker, Loudspeaker berfungsi untuk mengubah sinyal suara dari bentuk sinyal listrik menjadi sinyal akustik yang dapat didengarkan oleh telinga.

1.2.6 Sistem Regulator Televisi

Regulator adalah suatu bagian rangkaian televisi yang berfungsi untuk membagi tegangan ke setiap bagian-bagian komponen rangkaian televisi. Regulator merupakan bagian penting dari televisi, tanpa adanya tegangan dari regulator maka televisi tidak dapat bekerja. Tegangan dibagi sesuai dengan yang dibutuhkan setiap bagian itu sendiri.

Dalam sistem regulator trainer, penulis memfokuskan pada bagian regulator. Rangkaian regulator ini berfungsi untuk mengubah arus AC menjadi DC yang selanjutnya didistribusikan ke seluruh rangkaian. Tegangan tinggi untuk televisi berwarna mengalami banyak perubahan jika dibandingkan dengan seksi tegangan tinggi untuk televisi hitam putih. Tegangan tinggi yang diperlukan untuk tabung gambar televisi berwarna ialah :

F Untuk anode kedua kira-kira 20 KVolt sampai 25 KVolt atau lebih.

F Untuk elektrode fokus kira-kira 4 KVolt sampai 8 KVolt.

F Untuk elektrode konvergen (hanya pada tabung gambar yang menggunakan konvergen elektrostatistika) sampai 10 KVolt.

Di dalam sirkuit tegangan tinggi televisi berwarna juga dilengkapi dengan sirkuit pengatur tegangan yang digunakan untuk menstabilkan tegangan tinggi tersebut. Hal ini disebabkan karena arus yang dibutuhka lebih besar dan adanya pengaruh berubah-ubah tegangan terhadap warna gambar yang dihasilkan serta agar tegangan tinggi yang dibutuhkan lebih tinggi.

Dalam bagian regulator terdapat beberapa blok rangkaian, setiap blok rangkaian saling bekerja sama dengan blok-blok yang lain sehingga regulator dapa menjalankan fungsinya sebagai pembagian tegangan.

Adapun bagian-bagian itu antara lain seperti ditunjukan gambar 1.3.

Gambar 1.3 Blok diagram regulator

a. Sumber Tegangan

Besar tegangan jala-jala yang dibutuhkan televisi penerima adalah 220 volt AC

b. Filter Jala-jala

Bagian rangkaian filter ini berfungsi untuk menyaring tegangan yang masuk supaya murni 220 volt sesuai dengan yang dibutuhkan bagian penyearah.

Ada dua macam metode penyearahan jala-jala:

1. Metode Tanpa Transformator.

Dalam sistem ini, tegangan DC (arus searah ) pada penerima tv trainer dihasilkan dari penyearahan tegangan AC ( bolak balik) jala-jala, dan juga dari penyearahan pulsa melayang kembali defleksi horizontal, dimana tegangan bolak-balik langsung diberikan pada penyearah melalui filter jala-jala untuk menghindari noisnya, maka digunakan penyearah jala-jala langsung. Sebelum penyearah terdapat pula rangkaian-rangkaian lain seperti; lampu pilot, rangkaian pemanas untuk tabung gambar, rangkaian pendegaus dan lain sebagainya

2 Metode Menggunakan Transformator

Pada sistem penyaringan tegangan jala-jala TV penerima pada masa sekarang lebih banyak menggunkan metode transformator, transpormator input pada jala-jala dan regulator diambil dari penyearah bagian sekunder transpormator input itu sendiri. Pada rangkaian daya terdapat penyearah, regulator tegangan , lampu pilot, rangkaian pendegaus dan rangkaian pemanas tabung gambar berwarna.

Pada penyearah, tegangan AC disearahkan, difilter dan dilewatkan regulator tegangan.Dengan regulator tegangan, tegangan DC output dibuat selalu tetap meskipun tegangan jala-jala dan bebanya berubah-ubah. Tegangan output diatur dengan menggunakan resistansi dalam transistor yang ada pada regulator.

c. Penyearah

Rangkaian penyearah berfungsi untuk menyearahkan tegangan AC menjadi DC

Adapun jenis-jenis penyearah yang yang sering digunakan dalam rangkaian elektronika yaitu:

· Penyearah setengah gelombang

· Penyearah gelombang penuh

· Penyearah pendouble

d. Osilator

Osilator merupakan piranti elektronika yang menghasilkan keluaran berupa isyarat tegangan AC. Osilator berbeda dengan penguat, oleh karena penguat memerlukan isyarat masukan, untuk menghasilkan isyarat keluaran. Pada osilator tidak ada isyarat masukan, hanya ada isyarat keluaran saja. Osilator digunakan secara luas sebagai sumber isyarat untuk menguji suatu rangkaian elektronika.

Dalam bagian regulator, osilator menggunakan pengisian dan penguatan muatan pada suatu kapasitor melalui suatu hambatan. Suatu perubahan yang terjadi secara exponensial terhadap waktu. Pengisian muatan oleh tegangan tetap tidak berubah- ubah sehingga proses pengisian dan pengosongan tegangan tetap stabil.

Osilator adalah sebuah rangkaian elektronika yang dirancang untuk menghasilkan gaya gerak listrik bolak-balik dengan frekuensi dan bentuk gelombang konstiniu. Fungsi osilator secara umum adalah membangkitkan sinyal-sinyal gelombang sinus yang memiliki frekuensi dan amplitudo yang berubah-ubah dengan waktu yang teratur. Keluarannya bisa berupa gelombang sinusoidal, pulsa, segi tiga, dan gigi gergaji. Osilator banyak jenisnya, antara lain: osilator kristal, osilator jembatan win, osilator LC, osilator harfly, dan lain-lain.

f. Optocoupler

Optocoupler adalah merupkan komponen elektronik opto isolator yang terdiri dari pemancar cahaya atau emitter yang mengkopel secara optik terhadap photo detector melalui media yang terisolasi. Pemancar cahaya dapat berupa penerang lampu ataupun LED. Media isolasi berupa udara, plastik, dan fiber gelas.

Sedangkan photo detector dapat berupa photo konduktor, photo dioda, photo transistor, photo SCR atau rangkaian photo dioda.

Pengaturan pemancaran cahaya dan photo detector memungkinkan pemindahan informasi dari suatu rangkaian yang mengandung pemancar cahaya ke rangkaian yang mengandung photo detector. Informasi dilewatkan secara optik melintasi celah isolasi yang perpindahannya memiliki sistem satu arah sehingga photo detector tidak mempengaruhi rangkaian input. Isolasi optik mencegah adanya interaksi ataupun kerusakan rangkaian input yang disebabkan oleh perbedaan tegangan yang relatif tinggi terhadap rangkaian output.

Bentuk fisik dari kemasan optocoupler N501 terdiri dari 6 pin atau kemasan dual-inline. Konfigurasi ini pin 1 dan 2 umumnya dihubungkan ke keluaran sedangkan pin 4 dan 5 dihubungkan ke osilator seperti ditunjukkan pada gambar 1.4.

Gambar : 1.4 Bentuk Salah Satu Konfigurasi Optocoupler

Optocoupler dirancang untuk menggantikan fungsi relay mekanis dan pengubahan pulsa secara fungsional optocoupler sama dengan pasangan relay mekanis karena suatu isolasi tingkat tinggidi antara terminal input dan out putnya.

Beberapa keunggulan optocoupler komponen solid statet adalah:

- Kecepatan operasi lebih cepat

- Ukuran kecil

- Tidak mudah dipengaruhi getaran dan goncangan

- Respon frekuensi

Pada rangkaian regulator televisi, optocoupler berfungsi untuk memberi

keseimbangan frekuensi antara osilator dan keluaran agar tetap stabil.

h. Keluaran

Setelah terjadi pemrosesan tegangan di bagian regulator maka tegangan disuplay kesetiap bagian rangkaian sesuai dengan besarnya tegangan yang diperlukan. Ini dapat kita lihat dari keluaran trafo switching, adapun keluaran dari trafo switching yaitu keluaran untuk bagian rangkaian yang memerlukan

tegangan tinggi dan tegangan rendah. Untuk lebih jelasnya perhatikan output rangkaian.

Adapun besar tegangan yang diperlukan bagian-bagian rangkaian televisi itu antara lain:

1. Tunner 5 Volt

2. Program 5 Volt

3. Memory 5 Volt

4. Sensor 5 Volt

5. Penguat If 5 Volt

6. Penguat Audio / Video 5 Volt

7. Sistem 5 Volt

8. RGB program 5 Volt

9. Osc Horizontal 12 Volt

10. Osc Vertikal 12 Volt

11. Penguat amplifiert Audio 17 Volt

12. Driver horizontal 24 Volt

13. Vertikal out put 24 Volt

14. Horizontal out put 110 Volt

15. FBT 110 Volt

16. RGB Out 190 Volt

i. Transformator Switching

Pada dasarnya transformator terdiri dari 2 kumparan yang saling tersekat secara elektris dan terlilit diatas sebuah bahan inti yang membentuk sirkit maknetis tertutup.Transformator adalah komponen pasif yang bekerja tanpa memerlukan daya listrik dari luar, jika transformator digunakan pada frekuensi daya maka inti maknetisnya harus dibuat dari laminasi bahan yang mempunyai permeabilitas yang tinggi. Dalam transformator terdapat 2 lilitan yaitu lilitan primer dan lilitan skunder. Impedansi masukan trafo tidak sama dengan impedansi keluaran jika jumlah lilitan primer berbeda dengan lilitan skunder. Kumparan primer dihubungkan ke sumber AC dan kumparan sekunder dihubungkan ke beban. Transformator sering digunakan untuk :

1. Menaikan dan menurunkan tegangan bolak- balik

2. Menyesuaikan impedansi

Pada rangkaian regulator televisi penerima, transformator yang digunakan adalah Trafo switching . Trafo swithing adalah trafo yang mempunyai switch pada bagian dalam trafo itu sendiri. Pada rangkaian catu daya televisi trainer, trafo switching harus diberi isyrat masukan dari transistor switching sehingga trafo dapat bekerja, isyarat masukan yang diterima dari transistor switch berasal dari osilator yang memberi sinyal ke basis, sehingga transistor switch bekerja dan colektor memberi isyarat ke trafo switching.. Untuk lebih jelasnya perhatikan bentuk trafo switching pada gambar 1.5.

Gambar 1.5 Simbol Trafo Switching

Prinsip Kerja Regulator

Prinsip kerja dari regulator yaitu pertama-tama tegangan masuk 220 volt AC kemudian arus AC disearahkan di rangkaian penyearah menjadi tegangan DC Tegangan DC yang datang dari penyarah kemudian masuk ke bagian osilator, pada bagian osilator tegangan diproses sehingga menghasilkan sinyal frekuensi yang tinggi kemudian sinyal tersebut masuk ke basis transistor, maka transistor menjadi satu rasi (transistor bekerja) sehingga sinyal yang keluar dari kolektor mempunyai gelombang frekuensi yang tinggi maka keluaran osilator menghaasilkan sinyal gelombang bolak-balik.

Sinyal gelombang bolak–balik yang datang dari osilator kemudian masuk ke bagian trafo switching. Pada trafo switcing gelombang bolak-balik diubah menjadi gelombang searah, sehingga regulator menghasilkan tegangan dc. Pada rangkaian regulator ini terjadi proses regulasi, proses ini diatur sepenuhnya oleh optocoupler

Indikator Kerusakan Pada Regulator

Jika terjadi kerusakan pada salah satu bagian dari regulator maka hal pertama kita lakukan adalah melakukan pengukuran pada setiap titik bagian regulator, pengukuran ini dilakukan harus berurutan yaitu mulai dari sumber sampai ke bagian keluaran regulator.

Untuk melakukan pemeriksaan terlebih dahulu melihat blok diagram dan harus mempelajari sampai mengerti, karena tiap pabrik membuat rangkaian dan nama-nama komponennya yang kadang sedikit berbeda walaupun pada prinsip semulanya adalah sama.

Untuk memeriksa rangkaian regulator kita dapat mencoba dengan mengoperasikan televisi trainer. Ini kita lakukan untuk mengetahui gejala-gejala yang timbul pada monitor pada saat pengooperasian. Adapun kemungkinan indikator kerusakan pada rangkaian regulator adalah :

  1. Tegangan tidak masuk ke rangkaian
  2. Fuse rusak/putus.
  3. L 501 rusak/putus.
  4. Dioda pada bagian penyearah rusak/putus
  5. Transistor regulator(V523) putus
  6. Resistor 502 (6WK3.9) rusak/putus.
  7. Resistor 520 (1/2SJ120K) rusak/putus.
  8. Transistor V512 (2SC3807) rusak.
  9. N501(PC817B) rusak
  10. T511 (KB6-TH0818) rusak.

1.2.7 Rangkaian Sinkronisasi dan Defleksi

Rangkaian sinkronisasi digunakan untuk memberikan pulsa penyinkron ke rangkaian vertikal dan horizontal agar gambar yang ditampilkan pada layar gambar sesuai dengan informasi yang dikirimkan dari pemancar siaran televisi. Pulsa sinkronisasi mempunyai arah yang berlawanan dengan sinyal video terhadap landasannya serta mudah dipisahkan dengan menggunakan rangkaian pemisah amplituda. Sinkronisasi vertikal dan horizontal dapat dipisahkan berdasarkan perbedaan frekuensinya.

Rangkaian defleksi berfungsi untuk mengolah sinyal-sinyal sinkronisasi dan memberikan penguatan agar informasi yang gambar dari rangkaian regenerasi warna dapat dibelokkan pada tabung gambar sehingga informasi atau gambar dapat kita lihat langsung. Rangkaian defleksi dibagi yaitu defleksi vertikal dan defleksi horizontal, dimana masing-masing mempunyai fungsi yang sama dan keduanya berujung pada kumparan pembelok atau Deflection Yoke.

Pada gambar 1.6 dapat dilihat blok diagram rangkaian sinkronisasi dan defleksi.

Gambar 1.6 Blok Diagram Rangkaian Sinkronisasi Dan Defleksi

a. Pemisah Sinkron

Pulsa sinkronisasi mempunyai arah yang berlawanan terhadap tingkat landasan, dan mudah dipisahkan dengan memakai rangkaian pemisah amplitudo. Pulsa sinkronisasi horizontal dan vertikal dapat dipisah satu sama lain berdasarkan perbedaan frekuensi.

Gambar 1.7 menunjukkan rangkaian dasar pemisah pulsa sinkronisasi dari sinyal vidio komposit yang berdasarkan perbedaan amplitudonya. Bila sinyal video komposit negatif diberikan kepadankya kapasitor C dimuati atau diisi seperti pada gambar. Selama perioda sinyal video, elektron-elektron yang telah dimuatkan dikuras atau dibuang sesuai dengan garis titik-titik pada gambar 1.7.a, basis transistor ini mendapatkan tegangan negatif dan transistor menjadi terputus maka pulsa sinkronisasi dipisahkan.

Gambar 1.7 Pemisah Pulsa Sinkronisasi

b. Rangkaian Peredam Derau

Derau atau noise yang masuk pada gelombang televisi kadang-kadang besarnya melebihi pulsa sinkronisasi, maka sinkronisasi pada penerima televisi menjadi tidak stabil, atau bahkan kadang-kadang tidak sinkron sama sekali, ganguan seperti ini timbul disebabkan karena tegangan bias yang terlalu besar, dan akibatnya transistror pemisah pulsa sinkronisasi terputus yang menyebabkan sinyal noise menjadi besar.

Guna mencegah terjadinya noise pada sinkronisasi perlu dipasang rangkaian peredam niose. Transistor 1 ( Tr1) pada gambar 1.8 berfungsi sebagai peredam derau dan C diisi dengan pulsa sinkronisasi. D1 diatur sedemikian hingga dapat mengahantarkan pulsa sinkronisasi. Ini berarti biasanya terdapat hantaran antara elektroda-elektroda dioda tersebut. Bila pulsa derau lebih besar dari pada pulsa sinkronisasi maka penghantaran yang dilakukan antara elektroda-elektroda D2, tegangan basis Tr2 menurun disebabkan oleh tegangan jatuh pada R,juga arus kolektornya menurun maka tegangan katoda D1 naik dan D1 menjadi terputus. Seperti diperlihatkan pada gambar 1.8

Gambar 1.8 Rangkaian pemisah sinkronisasi

Pemisah pulsa horizontal dan pulsa vertikal dapat dipisahkan berdasarkan perbedaan frekuensi, seperti pada pulsa sinkronisasi vertikal pada 50 Hz dan pulsa sinkronisasi horizontal pada 15, 625 Hz. Gambar 1.9 menunjukkan bekerjanya kedua rangkaian diffrensiator dan rangkaian integrator.

Gambar 1.9. Rangkain Diffrensial dan Integrator

Pada gambar 1.9.a, daerah frekuensi yang lebih tinggi dapat dikeluarkan dengan rangkaian diffrensiator, komponen energi yang besar dapat dihasilkan dengan rangkaian integrator. Sebelumnya sebuah rangkaian AFC (Automatic Frequency Control) dipergunakan dalam rangkaian pemisah pulsa sinkronisasi horizontal, sebagai pengganti dari rangkain diffrensiator seperti yang terlihat pada gambar 1.2. (rangkaian pemisah Sinkronisasi), dan output penguat pemisah pulsa sinkronisasi vertikal karena bentuk gelombang outputnya mengalami distrorsi seperti terlihat pada gambar 1.9.c. Bila hanya digunakan beberapa tingkatan rangkaian integrator.

1.2.8 Rangkaian Horizontal

Fungsi sirkuit defleksi horizontal adalah untuk membangkitkan gigi gergaji dengan frekwensi horizontal dan frekuensi ini menurut sistem FCC besarnya 15,75 Hz untuk system CCIR sama dengan 15,62 Hz. Arus gigi gergaji dari penguat horizontal dimasukkan kegulungan defleksi horizontal pada leher kines cope untuk men-Sweep sinar berkas elektron sehingga bergerak dalam arah mendatar.

Transformator output horizontal dilengkapi dengan gulungan untuk tegangan tinggi yang digunakan untuk membangkitkan tegangan tinggi AC, dan tegangan tinggi ini dimasukkan keperata tegangan tinggi kemudian setelah menjadi tegangan DC digunakan untuk memberi tegangan pada anoda CRT.

Dan osilator horizontal terdapat tingkat sinkron horizontal yang disebut dengan pengatur frekwensi automatis atau AFC (Automatic frequency Control), yang digunakan untuk mengatur waktu atau frekwensi horizontal sehingga frekwensi ini selalu dalam keadaan serempak atau sinkron dengan scanning horizontal pemancar.

Sirkuit AFC tersebut mendapat sinyal sinkron dari bagian pemisah sinkron dan feedback gigi gergaji dari sirkuit output horizontal. Pada televisi warna terdapat beberapa blok televisi yang saling atau mempunyai fungsi tersendiri dan cara kerja yang berbeda, sehingga ini menyebabkan blok tersebut tidak dapat dipisahkan dari rangkaian yang lain.

Diagram blok horizontal dapat dilihat pada gambar 1.10

Gambar 1.10. Blok Diagram Horizontal

1.2.9 Rangkaian AFC (Automatic Frequency Control)

Rangkaian AFC dapat mengatur frekuensi oscilator horizontal, generator pulsa horizontal yang menghasilkan pulsa pendorong horizontal dibuat ada rangkaian AFC, yaitu dengan cara membandingkan fasa sinyal output generator pulsa horizontal dengan pulsa sinkronisasi yang stabil dengan mengatur langsung pulsa sinkronisasi horzontal, dan perbedaanya dikeluarkan berupa tegangan.

Pada generator pulsa pendorong horizontal, sukar membuat sinkronisasi yang stabil dengan mengatur langsung pulsa sinkronisasi horizontal, karena pulsa sinkronisasi horizontal itu sangat tinggi maka sinkronisasinya mudah terganggu oleh noise-noise dari luar.

Untuk membuat sinkronisasi yang stabil, dipasang rangkaian AFC pada generator pulsa pendorong horizontal yang mengontrol frekuensinya.

Ada dua macam metode defleksi rangkaian AFC, pertama AFC yang menggunakan lebar pulsa. Kebanyakan gelombang gigi gergaji, dan AFC yang manggunakan lebarpulsa. Kebanyakan menggunakan AFC gigi gergaji.

Gambar 1.11 menunjukkan sebuah rangkaian yang dinbuat dari campuran AFC gigi gergaji seimbang dengan oscilator blocking. Tr1 adalah penguat sinkronisasi dan Tr2 adalah osilator blocking.

Gambar 1.11. Rangkaian AFC dan Generator Pulsa Defleksi Horizontal

Ada dua macam AFC gigi gergaji, yaitu tipe seimbang dan tipe tidak seimbang. Pada kedua tipe itu, pulsa melayang kembali (FlyBack) dari transformator melayang kembali diberikan ke rangkaian integrator dan dari pulsa melayang kembali itu dibangkitkan sinyal gigi gergaji yang dipakai sebagai bentuk gelombang referensi.

Sedangkan metode pembuatan tegangan pengontrol yang dihasilkan dari perbedaan fasa antara bentuk gelombang referensi dengan pulsa sinkronisasi pada kedua tipe AFC itu sedikit berbeda.

Pada gambar 1.11, bentuk gelombang seperti yang tergambar pada 1.12 timbul pada kolektor dan emitor Tr1 dan bentuk gelombang referensi ini diberikan kepada titik perpotongan dioda D1 dan D2. seperti yang digambarkan pada gambar 1.12.b, sama, maka arus yang mengalir pada D1 dan D2 sama besar dan elektron yang memuati kapasitor C1 dan C2 juga sama maka pada titik tengah A antara R1 dan R2 tegangan AFC tidak timbul.

Bila frekuensi oscilator defleksi horizontal lebih rendah daripada frekuensi pulsa sinkronisasi, maka fasa gelombang referensi tertunda seperti digambarkan pada gambar 1.12.a, sehingga arus yang mengalir pada D2 lebih besar yang mengalir pada D1, dan elektron yang mengalir melewati C1 lebih besar daripada yang memuati C2, maka tegangan pada A naik dan tegangan pada Basis Tr2 Oscilator defleksi horizontal juga naik. Maka frekuensi defleksi horizontal menjadi naik.

Bila frekuensi oscilator defleksi horizontal itu naik saeperti yang ditunjukkan pada gambar 1.12.c, muatan kapasitor C2 lebihn besar daripada muatan pada C1 dan tegangan pada titik A menurun, dan pada oscilator defleksi horizontal bertambah rendah karena bekerjanya tegangan AFC pengontrol. Tegangan AFC pada titik A diratakan oleh rangkaian reductor riak (Ripple) yang terdiri dari C3, C4 dan R3 dan kemudian diberikan kepada basis Tr2.

Gambar 1.12. Respon Sinya Rangkaian AFC

1.2.10 Osilator Pembangkit Sinyal Horizontal

Pada umumnya osilator horizontal yang digunakan dalam televisi penerima ada tiga macam yaitu : Osilator Blocking, Osilator Hartley, Dan Multi Vibrator. Pada gambar 1.13 menunjukkan contoh rangkaian osilator blocking, pada prinsipnya rangkaian ini bekerja dengan feedback (Catu balik) positif kenaikan arus emitor, yaitu bila Tr2 berkonduksi maka arus emitor dan kenaikan arus ini membuat tegangan basis naik dengan menggunakan transformator, maka Tr2 serentak jadi jenuh. Bila Tr2 jenuh maka arus emitor mulai menurun dan tegangan basisnya juga menurun karena teganan waktu transformator dan Tr2 menjadi terputus (Cut Off). Pekerjaan ini diulang-ulangi maka dihasilkan osilator blocking. Frekwensi ini diatur oleh tegangan bias basis.

Pada osilator tegangan menggunakan transistor NPN, frekwensi osilasi menjadi tinggi. Tetapi bila osilator mempergunakan transistor PNP, frekwensi osilasinya menjadi rendah bila tegangan bias basisnya dinaikkan.

Gambar 1.13. Rangkaian Dasar Osilator

1.2.11 Sinyal Keluaran Horizontal

Tingkat Output horizontal adalah bagian yang paling sulit dalam seksi defleksi, sebab tingkat ini harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan seperti: tegangan yang cukup tinggi, arus yang besar, tenaga yang besar, kerja switching yang cepat. Tingkat output horizontal harus memberikan sinyal arus gigi-gergaji yang besar pada gulungan defleksi horizontal yang dipasang pada leher tabung gambar, membangkitkan tegangan tinggi yang diperlukan anoda tabung .

Dengan menggunakan sirkuit equivalen untuk output horizontal seperti gambar dibawah, maka secara singkat bekerjanya tingkat transistor output horizontal dapat diterangkan sebagai berikut :

1. Transistor output horizontal bekerja sebagai saklar, oleh karena tu dalam gambar 1.12 a dilukiskan saklar S untuk menggantikan transistor itu.

2. Lo yang merupakan induksi gulugan defleksi horizontal bersama-sama dengan Co membntuk sirkuit penala. Induksi Lo dari 100 mikro henry adalah hanya kira-kira 1/10 dari induksi gulungan defleksi horizontal untuk telvisi tabung yang biasanya sampai 10 mikro henry.

3. IL dan EC pada gambar dibawah menunjukan tegangan kolektor transistor dan arus gulungan pada defleksi horizontal. IL merupakan arus dengan bentuk gigi-gergaji linear, sedangkan tegangan EC pada kolektor transistor berbentuk pulsa.

4. Ketika saklar S tertup pada waktu t3, tegangan yang mengalir kegulungan defleksi akan naik menurut garis linear.

5. Pada waktu t4 saklar terbuka ( terputus ), dan arus pada gulungan defleksi horizontal terputus tiba-tiba. Perobahan arus yang cepat ini menyebabkan bangkitnya tegangan balik induksi yang besar.

6. untuk mengatur tegangan balik induksi yang besar itu, maka gulungan dibuat resonansi dengan menghubungkan paralel condensator Co, dan periode resonansi sama denan dua kali waktu terbang balik ( flyback ).

7. Ketika saklar sedang terputus (terbuka) gulngan induksi Lo dan kondensator Co ang membentuk sirkuit resonansi bekerja dengan jatuhnya medan magnet, artinya diberikan tegangan kejut oleh jatuhnya medan magnet sebagai akibat arus yang turun dengan cepat.

8. ketika stengah siklus yang pertama, semua energi listrik yang tidak dissipasikan oleh kerugian,disimpan dalam sirkuit penala Lo-Co.

9. Seperti yang tampak pada gambar (1) Gambar 1.12.a, tegangan pulsa kembali kenilai nol dalam waktu setengah dari waktu resonansi nya. Pada titik ini (t5) saklar terhubung lagi, dan arus kembali mengalir kesumber tegangan karena pada pertengahan siklus osilasi menyebabkan berbaliknya arus. Mengalirnya kembali arus kesumber tegangan terus berlangsung sehingga waktu t6, yaitu ketika arus telah mencapai nilai nol. Dari titik t6 arus mulai mengalir dari sumber tegangan kegulungan defleksi Lo, dan naik secara linear sehingga mencapai waktu t7, yaitu ketika saklar S terputus lagi . Dengan demikian siklus diulangi kembali, sehingga dengan demikian dapat diproleh arus gigi gegaji pada glungan defleksi horizontal (IL) seperti yang ditunjukan pada gambar (2). Arus gigi-gegaji yang dihasilkan dapat membangkitkan sinar berkas elektron dalam arah mendatar.

Gambar 1.12. Prinsip Kerja Rangkaian Output Horizontal

1.2.12 Transistor Penguat Sinyal Horizontal

Untuk membatasi arus DC pokok yang masuk ke kumparan defleksi maka pada transistor output horizontal diberi kopling. Dengan menggunakan gulungan primer transformator output horizontal dihubungkan paralel dengan gulungan defleksi.Jenis-jenis rangkaian keluaran pada transistor horizontal dapat ditunjukan pada gambar 1.13

Gambar 1.13. Tiga jenis rangkaian horizontal dengan gulungan defleksi

Menggunakan gulungan sekunder transformator output horizontal output horizontal dengan cara ini gulungan defleksi dikopel melalui gulungan sekunder transformator output horizontal pada gambar (b), yaitu arus DC kolektor sama sekali tidak masuk ke gulungan defleksi horizontal.

Menggunakan kopling induktif-kapasitif (L – C) seperti gambar (C), yaitu arus DC kolektor transistor dicegah masuknya kegulungan defleksi oleh kondensator kopling.

Perbandingan lilitan antara gulungan primer dan sekunder tranmsformator kopling seperti gambar (b) tidak jauh dari satu, jadi benar-benar merupakan transformator kopling atau transformator isolasi DC, dan tidak ada sangkut pautnya dengan penyusunan impedansi.

1.2.13 Dioda Dumper

Transistor merupakan alat impedansi rendah, sehingga untuk mendukung bekerjanya gulungan defleksi yang juga mempunyai impedansi rendah dapatlah dikopel secara langsung. Dissipasi tenaga transistor output horizontal rendah sekali jika dibandingkan dengan tanung elektron, dan kopel tidak langsung adalah untuk membatasi dissipasi tenaga DC (tenaga statis).

Dan menurut teori transistor dapat bekerja seperti dioda karena kemampuannya untuk konduksi dalam arah yang berlawanan. Dalam prakteknya, dioda digunakan dalam rangkaian televisi penerima sebab scanning linear dapat diperolehnya dan dissipasi tenaga transistor output horizontal dapat berkurang.hal ini karena dioda mengambil sebagian besar dari arus balik, yang mana tanpa dioda arus balik seluruhnya akan dipikul oleh transistor.

Dalam rangkaian televisi penerima, transistor dioda, dapat dihubungkan seperti pada gambar 1.14

Gambar 1. 14. Dioda sebagai dumper rangkaian horizontal

a). Dioda langsung dihubungkan paralel dengan transistor, dan transistor bekerja dengan emitor terbuni.

b). Paralel dengan transistor, dan transistornya bekerja dengan prinsip kolektor terbumi.

Transistor dapat bekerja dengan efektif seperti dioda dumper dimana dalam hal ini transistor dapat konduksi dua arah atau arus baik (reserve current)

1.2.14 Rangkaian Defleksi Sinyal Horizontal

Pada rangkaian output defleksi horizontal, pulsa defleksi horizontal diberikan pada kumparan defleksi horizontal, dan pengulasan horizontal dikerjakan oleh arus gigi gergaji yang dibangkitkan yang mengalir kedalam kumparan defleksi horizontal itu . Transistor output hanya bertindak sebagai saklar elektronik saja.

Pada gambar 1.15 menunjukan rangkaian pengganti (ekuivalen) dan cara kerjanya. Pada interval dasar dari pulsa pendorong horizontal, arus defleksi mengalir ke dalam kumparan defleksi itu dan naik berlahan-lahan (lihat (1) pada gambar).

Bila pulsa pendorong horizontal pada vidio tiba pada transisitor output maka saklar dalam gambar itu menjadi terbuka (artinya transisitor output horizontal itu terputus), lalu arus yang diinduksikan meulai mengisi kapasitor C dengan energi yang telah terkumpul dalam kumparan defleksi tersebut (lihat (2) pada gambar) mengalir berbalikdidalam kumparan defleksi itu.

Setelah muatan C telah dikuras habis, maka arus induksi timbul dari kumparan mengalir melalui dioda peredam dan menyerap energi yang terkumpul dan mencegah adanya gejala resonansi pada rangkaian defleksi itu. Bila dioda peredam terputus (Cut Off) saklar transistor output berkonduksi lagi dan pekerjaan yang telah disebut diulangi.

Gambar 1.15. Rangkaian output defleksi horizontal

1.2.15 Catu Tegangan Tinggi

Tegangan anoda tabung gambar harus tinggi mendekati 25 KV. Untuk menghasilkan tegangan tinggi itu menggunakan pulsa output horizontal.

Gambar 1.16 menunjukkan sebuah contoh rangkaian tegangan tinggi. Pulsa output horizontal diberikan kepada trnsformator melayang kembali yang memperbesar pulsa output horizontal itu menjadi 10 kalinya. Pulsa yang telah diperbesar diberikan ke rangkaian penyearah pendobel (pelipat ganda).

Biasanya rangkaian pembangkit tegangan tinggi dibuat bersama dengan rangkaian pembangkitoutput defleksi horizontal. Pada pesawat penerima televisi berwarna yang biasanya membutuhkan daya output horizontal lebih besar, maka transistor-transistor, output horizontalnya menggunakan dalam pasangan atau paralel, atau mungkin rangkaian pembangkit tegangan tinggi itu dibuat terpisahdari rangkaian defleksi horizontalnya.

Gambar 1.16. Catu daya tegangan tinggi

Gambar 1.17. Bentuk gelombang resonansi tinggi

Sebuah catu daya menyearahkan masukan bolak baliknya (AC) agar mgeluarkan searah (DC). Pesawat televisi memiliki beberapa penyearah daya pada tegangan-tegangan kerja arus searah (DC) yang dibutuhkan. Tegangan tinggi diperlukan untuk anoda, atau ultor tabung gambar. Tegangan rendah dipergunakan untuk penguat sinyal kecil seperti penguatan-peguatan penyelarasan , pemroses kroma,dan tingkatan-tingkatan dalam penyetala RF. Kebutuhan yang berbeda diperlihatkan dalam daftar tegangan catu daya untuk sebuah pesawat televisi seperti ditunjukan pada gambar 1.18

Gambar 1.18. Tegangan Catu yang dihasilkan oleh FlyBack

Ada beberapa keuntungan dengan menggunakan metode pemayaran. Pertama-tama tegangan catu daya searah (dc) yang berbeda dapat diproleh seca muda dari pencabangan-pencabangan yang berbeda pada transformator keluaran horizontal. Metode ini jauh lebih efisien dari pada sebuah tahanan bleeder (pengambil arus) yang dicabangkan, atau tahanan yang penurunan tegangan; sebab tidak ada daya I2.R yang terbuang dalam pemanasan tahanan-tahanan. Kedua, kerut bolak balik adalah pada frekwensi pemayaran horizontal 15.750 Hz, yang jauh lebih muda menapisnya dari pada frekwensi jaringan jala-jala 60 Hz.

Umumnya penyearah jaringan menggunakan pengatur untuk keluaran searah, seperti pada gambar 1.13. Tujuannya adalah mengizinkan suatu nilai yang mantap dari tegangan keluaran arus searah yang disearahkan dengan perubahan-perubahan dalam jumlah arus beban. Sebagian pengatur menggunakan suatu transistor pelewat seri dalam lintasan untuk arus beban. Konduksi diubah oleh suatu tegangan pengontrol kesalahan untuk keluaran searah. Suatu metode yang efisien menggunakan pengatur modus pensaklaran (switching mode regulation) . dalam sistem ini arus beban keluaran pulsa on dan off pada laju pensaklaran. Efiseennya sangat tinggi sebab keluaran diatur melalui pengontrolan daur tugas dari pulsa-pulsa arus yang disalurkan kebeban. Regulator mendisspasikan daya yang kecil sebab dia bekerja on dengan tahanan yang sangat rendah atau off dengan arus nol.

Penyerah jala-jala listik pada gambar 1.13 memberikan catu searah untuk penguat keluaran horizontal. Tingkat ini menghasilkan daya bagi catu-catu tegangan pemayaran. Walaupun akhirnya semua daya searah (DC) datang dari jaringan daya bolak balik.

1.2.16 RGB (Red – Green – Blue)

Secara umum rangkaian RGB berfungsi untuk mengatur sinyal-sinyal perbedaan warna gambar. Rangkaian RGB ini sangat berperan penting dalam pengaturan warna-warna gambar pada layar CRT. Rangkaian ini menghasilkan tiga warna dasar yaitu ; R (merah), G (hijau), dan B (biru). Sedangkan warna-warna gambar yang dihasilkan setelah pencampuran dari ketiga warna dasar disebut warna sekunder atau warna campuran. Diagram blok RGB terdapat bagian:

  1. Demodulator warna.
  2. Buffer.
  3. Penguat output
  4. CRT.

Diagram blok RGB ditunjukkan pada gambar 1.19.

Demodulator warna

CRT

Penguat

Output

Buffer

Sinyal RGB in Gambar

Gambar 1.19. Diagram Blok RGB

a. Demodulator Warna

Sinyal warna didemodulasi dalam rangkaian pembangkitan kembali sinyal warna dan tiga sinyal warna primer (ER, EG, EB) dibuat dari sinyal yang telah didemodulasi itu. Rangkaian pembangkitan kembali sinyal warna terdiri dari sebuah penguat band pass (pelewat-jalur), sebuah demodulator, sinyal warna sebuah rangkaian sinkronisasi warna, sebuah rangkaian output sinyal warna dan lainnya. Penguat pelewat-jalur mempunyai beberapa fungsi sebagai berikut :

F Pengkoreksi cacat respon frekuensi dari tingkatan penguat IF gambar.

F ACC (Automatic Chroma Control) pemati warna dan

F Pengatur kejenuhan kroma.

b. Buffer

Buffer berfungsi untuk mengolah sinyal-sinyal warna gambar, sehingga menghasilkan sinyal-sinyal perbedaan warna gambar yang kontras. Sinyal-sinyal perbedaan warna gambar yang dihasilkan oleh bagian ini belum cukup kuat untuk mensupply CRT, oleh karena itu sinyal-sinyal tersebut harus diperkuat terlebih dahulu oleh penguat output. Pada bagian ini terdapat rangkaian pengatur inensitas gambar yang berfungsi untuk mengatur ketajaman gambar objek dan ABL (Adjust Brightness Level) berfungsi untuk meningkatkan pengaturan kegelapan gambar . Jika rangkaian ini tidak bekerja dengan baik, maka gambar yang terlihat pada tabung gambar terkadang terlihat tipis bahkan tidak terlihat sama sekali.

c. Penguat Sinyal Warna

Penguat keluaran berfungsi untuk memperkuat sinyal-sinyal perbedan warna gambar yang dihasilkan oleh penguat buffer, sehingga sinyal-sinyal tersebut culup kuat untuk mensupply katoda CRT. Sinyal ini harus cukup kuat, agar warna gambar yang ditampilkan dilayar dapat menimbulkan kontras. Penguatan yang tidak merata pada bagian ini menyebabkan warna gambar menjadi kurang baik.

Penguat keluaran, biasanya memiliki impedansi yang lebih tinggi. Hal ini perlu mencegah sinyal warna gambar yang dihasilkan oleh penguat buffer agar tidak kehilangan tenaga (loss) jika diberikan suatu beban input yang mempunyai inpedansi masukan yang rendah. Pada rangkaian penguat video terdapat pengatur kontras. Kontras adalah perbedaan warna gambar antara bagian-bagian berwarna merah, hijau dan biru. Mengatur kontras sebenarnya adalah :

F Mengatur penguatan dari sinyal-sinyal warna gambar.

F Mengatur amplitudo dari sinyal-sinyal warna gambar.

Pengatur kontras ini mengatur banyaknya sinyal warna gambar yang sampai ke tabung gambar, pengatur kontras bekerja dengan cara memutar pengatur potensiometer dan diatur sesuai keinginan dan juga disesuaikan dengan keadaan ruangan. Jika ruangan terang, maka kontras diperbesar dan jika ruangan gelap kontras dikurangi. Pengatur kontras ini juga harus diimbangi dengan pengatur cerah (brightness control).

1.2.17 Tabung CRT (Catode Ray Tube)

Tabung gambar dalam teknik televisi berfungsi untuk mengubah informasi sinyal video menjadi informasi video visual. Dalam tabung televisi warna mempunyai tiga buah penembak elektron (katoda) yang masing-masing dipanasi oleh sebuah filamen. Tabung CRT umumnya membutuhkan tegangan filamen sebesar 4.5 Volt AC dan ada juga yang menggunakan tegangan DC sebesar 12 Volt DC. Sumber tegangan filamen pada televisi ada yang dari trafo flyback dan ada juga yang dari power supply.

Gambar 1.20. Gambar Tabung CRT

Tabung CRT televisi mempunyai tiga kaki katoda yaitu Katoda RED (KR), Katoda GREEN (KG) dan Katoda BLUE (KB). Kelengkapan tabung gambar adalah kumparan defleksi atau defleksi yoke. Kumparan defleksi terdiri dari dua macam kumparan defleksi yaitu kumparan defleksi vertikal dan kumparan defleksi horizontal.

Defleksi yoke berfungsi untuk menggerakkan sinar elektron dalam menscaning seluruh permukaan layar tabung dengan cara memberi arus gergaji pada kumparan defleksi vertikal dan kumparan defleksi horizontal. Defleksi yoke pada tabung warna menggunakan tiga pasang ring magnet pada leher tabung warna.

F Sepasang magnet dengan tanda “P”yang dinamakan sebagai “magnet purity” berfungsi untuk mengontrol arah ketiga elektron.

F Sepasang magnet 4 kutup dipakai untuk mengarahkan warna merah dengan warna biru.

F Sepasang magnet 6 kutup dipakai untuk mengarahkan warna hijau konvergen, gabungan antara warna merah – biru.

Konvergen artinya mengontrol agar ketiga sinar elektron pada saat yang sama menembak dot melalui satu lubang yang sama pada shadow mask pada keseluruh layar. Kesalahan penyetelan magnet konvergen, akan dapat menyebabkan garis putih pinggirnya menjadi berwarna kemerah-merahan atau kehijau-hijauan atau kebiru-biruan.

Bagian dalam tabung gambar atau CRT terdiri atas penembak elektron di bagian lehernya yang terdiri atas elektroda-elektroda sebagai berikut :

  1. Pin atau kaki lampu filamen G1, G2, G3, Katoda.
  2. Filamen dengan tegangan 6v – 12v. Fungsi flamen ialah kawat pemenasan karena itu disebut heater.
  3. Katoda penghasil elektron. Jalannya elektron sangat cepat karena bentuk katoda seperti tabung, dengan bagian depannya berlubang kecil atau tertutup sehingga memungkinkan elektron bergerak cepat menyerupai tembakan, oleh karena itu katoda sering dinamai elektron gun.
  4. Grid yang menyerupai silinder dengan penahan-penahan arus. Silinder berlubang tempat sinar-sinar elektron mengumpul dan membentuk suatu fokus. Ini dinamai control grids.
  5. Grid 2, tempat penarik elektron supaya bergerak cepat, karena itu G2 diberi tegangan 70v – 350v.
  6. Gelang centering/cincin yang berfungsi untuk mengatur berkas elektron secara magnet.
  7. Leher tabung dari kaca yang pada bagian luarnya terdapat elektroda-elektroda kumparan yoke atau defleksi coil. Pada leher tabung terdapat gelang centering, alat ini dapat diputar ke kanan atau kekiri. Guna centering yaitu untuk mengatur supaya sinar elektron tepat jatuh pada titik pusat layar tabung gambar yang biasanya berupa titik-titik.

Pada gambar 1.31, ditunjukkan susunan pin-pin pada tabung televisi berwarna dan daftar nama elektroda-elektrodanya adalah sebagai berikut :

Gambar 2.4. Sambungan basis ke kaki CRT

G3 = Grid 3 (Fokus)

G2 = Grid 2 (Screen)

H1 = Heater 1

KR = Katoda Red (Merah)

KG = Katoda Green (Hijau)

KB = Katoda Blue (Biru)

H2 = Heater 2

G1 = Grid

a. Cara kerja tabung

Tegangan yang masuk ke Heater sebesar 4,3 Volt sampai 6,3 Volt akan mengakibatkan lampu Heater akan menyala. Lampu heater ini seperti lampu pijar yang mengeluarkan panas apabila menyala, panas dari heater akan dimanfaatkan untuk memanasi elemen-elemen KR, KG, KB, agar informasi yang ada pada masing–masing katoda dapat mengalir. Tegangan atau informasi yang dialirkan dari masing-masing elemen warna masih sangat kecil dan lemah, G2 berfungsi untuk menarik sinyal informasi dari elemen warna ke layar screen.

Pada keadaan sinyal informasi di layar screen, informasi belum dapat disaksikan dengan jelas, untuk itu G3 akan menarik kembali sinyal-sinyal warna tersebut ke layar fosfor. Tegangan Anoda berfungsi untuk memberikan tegangan tinggi agar sinyal informasi yang telah sampai pada layar fosfor dapat dilihat.

b. Sinyal Monochrome

Sinyal monochrome atau disebut pula sinyal gambar hitam putih atau disingkat Y, merupakan sinyal 3 warna pokok. Tiga warna pokok tersebut terbentuk dari tiga sinyal warna primer, dengan perbandingan : sinyal hijau (Green) sebanyak 59%, sinyal merah (Red) sebesar 30%, dan sinyal biru (Blue) sebanyak 11%.

Berdasarkan perbandingan tersebut, dapat dirumuskan sebagai berikut :

Y = 0,59%G + 0,30%R + 0,11%B

Y = sinyal monochrome (sinyal hitam putih/ Luminansi).

R = sinyal Red (merah).

G = sinyal Green (hijau).

B = sinyal Blue (biru).

Dengan perhitungan matematis seperti tersebut diatas, bila Y = 100%, dan sinyal B (Blue/Biru) =11% serta sinyal G (Green/Hijau) = 59%, maka sinyal sisanya, yaitu sinyal R (Red/Merah) = 100% - (11% +59%) = 30%.

c. Sinyal Berwarna

Sinyal berwarna merupakan komponen kedua dari sinyal informasi video untuk televisi berwarna selain sinyal monochrome. Sinyal berwrna yang digunakan pada dasarnya juga terdiri dari tiga warna primer, yaitu merah (red), hijau (green), dan biru (blue). Namun dalam penggunaanya, sinyal-sinyal tiga warna primer ini tidaklah langsung digunakan, melainkan proses penggabungan terlebih dahulu. Sinyal berwarna ini mengandung tiga sifat, yaitu :

  1. Sifat warna yang menyentuh mata (hue) yaitu yang merupakan warnanya sendiri seperti warna biru, hijau,merah dan lain-lain sebagainya.
  2. Sifat yang menentukan intensitas warna (saturation), yaitu warna-warna jenuh seperti hijau tua, hijau muda, kuning tua, kuning muda dan lain-lainnya.
  3. Sifat yang menentukan kecerahan warna (Bright-ness). Kecerahan warna ini ditentukan oleh kuatnya sinar pada layar ditambah dengan kemampuan permukaan berwarna untuk memantulkan sinar yang mengenainya.

1.2.18 Konfigurasi Pin-pin IC LA 76818A

IC LA 76818A merupakan suatu piranti yang digunakan pada rangkaian televisi untuk mengolah sinyal-sinyal yang masuk dan keluar yang didalamnya merupakan gabungan dari rangkaian-rangkaian eletronik yang dikemas dalam suatu chip IC (integrated circuit).

Konfigurasi pin-pin IC LA76818A seperti ditunjukkan pada gambar 1.32.

Gambar 1.32. Konfigurasi Pin-pin IC LA76818A

Susunan pin-pin IC 76818A LA seperti pada gambar 1.32. sebagai berikut :

F Pin 1 adalah AUDIO OUTPUT

F Pin 2 adalah FM OUTPUT

F Pin 3 adalah PIF AGC

F Pin 4 adalah RF AOC

F Pin 5 adalah VIF INPUT 1

F Pin 6 adalah VIF INPUT 2

F Pin 7 adalah IF GND

F Pin 8 adalah IF VCC

F Pin 9 adalah FM FILTER

F Pin 10 adalah AFT OUT

F Pin 11 adalah BUS DATA

F Pin 12 adalah BUS CLOCK

F Pin 13 adalah ABL

F Pin 14 adalah RED INPUT

F Pin 15 adalah GREEN INPUT

F Pin 16 adalah BLUE INPUT

F Pin 17 adalah FAST BLANK INPUT

F Pin 18 adalah RGB VCC

F Pin 19 adalah RED OUTPUT

F Pin 20 adalah GREEN OUTPUT

F Pin 21 adalah BLUE OUTPUT

F Pin 22 adalah Fsc OUTPUT/C-Sync OUTPUT

F Pin 23 adalah VI OUTPUT

F Pin 24 adalah Ramp ALC FITER

F Pin 25 adalah H/BUS VCC

F Pin 26 adalah H/AFC FILTER

F Pin 27 adalah H OUTPUT

F Pin 28 adalah Fly back Pulse INPUT

F Pin 29 adalah VCO REF

F Pin 30 adalah CLOK OUTPUT

F Pin 31 adalah VCC (CCD)

F Pin 32 adalah CCD FILTER

F Pin 33 adalah GND (CCD/H)

F Pin 34 adalah SECAM B-Y INPUT

F Pin 35 adalah SECAM R-Y INPUT

F Pin 36 adalah APC 2 FILTER

F Pin 37 adalah FSC OUTPUT

F Pin 38 adalah XTAL

F Pin 39 adalah APC 1 FILTER

F Pin 40 adalah SEL VIDEO OUTPUT

F Pin 41 adalah GND (Y/C/B) VIDEO BUS

F Pin 42 adalah EXT VIDEO INPUT

F Pin 43 adalah VCC (V/C/B)

F Pin 44 adalah INT VIDEO INPUT

F Pin 45 adalah BLACK STRET CH FILTER

F Pin 46 adalah VIDEO OUTPUT

F Pin 47 adalah APC FILTER

F Pin 48 adalah VCO COIL 2

F Pin 49 adalah VCO COIL 1

F Pin 50 adalah VCO FILTER

F Pin 51 adalah EXT AUDIO INPUT

F Pin 52 adalah SIF OUTPUT

F Pin 53 adalah SIOF APC FILTER

F Pin 54 adalah SIF INPUT

IC LA 76818A terdapat 54 pin yang mempunyai fungsi masing-masing. Dalam pembahasan pin-pin IC LA 76818A ini tidak semuanya dijelaskan fungsi dari masing-masing pin IC tersebut. Adapun pin-pin IC LA 76818A yang akan dibahas sesuai dengan yang digunakan didalam rangkaian RGB adalah sebagai berikut :

F Pin 14 adalah pin R (Red) Input yang digunakan untuk tempat masuknya sinyal warna merah atau R (Red).

F Pin 15 adalah pin G (Green) Input yang digunakan untuk tempat masuknya sinyal warna hijau atau G (Green).

F Pin 16 adalah pin B (Blue) Input yang digunakan untuk tempat masuknya sinyal warna biru atau B (Blue).

F Pin 18 adalah Vcc RGB yang dihubungkan ke tegangan + 9 Volt DC.

F Pin 19 adalah pin R (Red) Output yang digunakan untuk tempat keluarnya sinyal warna merah R (Red)

F Pin 20 adalah pin G (Green) Output yang digunakan untuk tempat keluarnya sinyal warna hijau G (Green)

F Pin 21 adalah pin B (Blue) Output yang digunakan untuk tempat keluarnya sinyal warna biru B (Blue)

a. Arsitektur IC LA 76818A

Didalam IC LA 76818A terdapat beberapa blok rangkaian yang mempunyai fungsi masing-masing. IC LA 76818A merupakan komponen utama dalam mengatur segala kegiatan kerja pada rangkaian televisi trainer.

Gambar 1.33. Arsitektur IC LA 76818A

Adapun fungsi dari berbagai blok diagram IC LA76818A tidak semuanya dijelaskan dalam pembahasan ini. Tetapi penulis hanya membahas bagian blok RGB dari IC LA76818A.

1. Clamp berfungsi sebagai pengapit atau penjepit sinyal yang diterima.

2. RGB Matrix merupakan pencampuran dari warna dasar R, G dan B yang akan menghasilkan sinyal luminasi Y dan dua sinyal krominasi, yaitu I dan Q seperti ditunjukkan pada persamaan dibawah ini :

F Y = + 0,30%R + 0,59%G + 0,11%B .....................................................(2.1)

F I = + 0,60%R - 0,28%G - 0,32%B ........................................................(2.2)

F Q = + 0,21%R - 0,52%G + 0,31%B .......................................................2.3)

3. Drive/Out-Off merupkan output dari sinyal RGB yang akan dilangsungkan pada rangkaian penguat warna.

4. Contrast bright berfungsi untuk mengkontrast warna gelap yang diterima agar dapat diproses dalam RGB matrix.

5. ACC (Automatic Chroma Control) berfungsi sebaga pemati warna.

6. Video SW merupakan pengontrol sinyal video.

7. RGB SW merupakan pengontrol sinyal warna merah, hijau dan biru.

1.2.19 Indikator-Indikator Kerusakan RGB

Jika terjadi kerusakan pada salah satu bagian dari RGB maka urutan seperti dibawah ini harus dicoba untuk mendapatkan bagian yang rusak dan bagaimana memperbaikinya.

Untuk melakukan pemeriksaan terlebih dahulu melihat blok diagram dan harus mempelajari sampai mengerti, karena tiap pabrik membuat rangkaian dan nama-nama komponennya yang kadang sedikit berbeda walaupun pada prinsip semulanya adalah sama.

Untuk memeriksa rangkaian RGB dapat dicoba menghidupkan televisi trainer untuk mengecek gejala-gejala yang timbul dari rangkaian RGB tersebut. Adapun kemungkinan indikator kerusakan pada Rangkaian RGB adalah:

F Resistor 902 (100) rusak/putus.

F Resistor 902 (100) rusak/putus

F Transistor V901 (2SC2688) rusak.

F Resistor 908 (2SJ10K) rusak/putus.

F Resistor 912 (100) rusak/putus.

F Transistor V912 (2SC2688) rusak.

F Resistor 918 (2SJ10K) rusak/putus.

F Resistor 922 (100) rusak/putus.

F Transistor V922 (2SC2688) rusak.

F Resistor 928 (2SJ10K) rusak/putus.

F Tegangan tidak masuk pada rangkaian.

Secara umum rangkaian RGB berfungsi untuk mengatur sinyal-sinyal perbedaan warna gambar. Rangkaian RGB ini sangat berperan penting dalam pengaturan warna-warna gambar pada layar CRT. Rangkaian ini menghasilkan tiga warna dasar yaitu ; R (merah), G (hijau), dan B (biru). Sedangkan warna-warna gambar yang dihasilkan setelah pencampuran dari ketiga warna dasar disebut warna sekunder atau warna campuran. Diagram blok RGB terdapat bagian:

F Buffer.

F Demodulator warna

F Penguat output

F CRT.

BAB II

SISTEM REGULATOR TV TRAINER

Sebelum menentukan titik pensaklaran dan pengukuran dirangkaian regulator hal yang pertama dilakukan adalah mempelajari bagian-bagian apa saja yang terdapat pada rangkaian regulator, dan bagaimana fungsi setiap bagian- bagian itu bekerja sama, agar tegangan dapat disuplai kesetiap bagian sesuai dengan yang dibutuhkan.

2.1 Blok Diagram Pengujian

Rancangan rangkaian regulator trainer TV HUIJIA ini, diawali dengan blok diagram dari rangkaian regulator TV Trainer tersebut. Dimana tiap-tiap blok berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya. Diagram blok merupakan salah satu cara yang paling sederhana untuk menjelaskan cara kerja dari suatu sistem dan memudahkan untuk melokalisir kesalahan dalam suatu sistem.

Diagram blok dapat juga menganalisa cara kerja rangkaian yang akan dibuat secara umum, dan merupakan pernyataan hubungan yang berurutan dari satu atau lebih komponen yang memiliki satu kesatuan kerja sehingga semua bagian rangkaian dapat bekerja menjadi satu kesatuan seperti ditunjukkan pada gambar 2.1

Gambar 2.1 Blok Diagram Pengujian Regulator

Adapun fungsi dari masing-masing blok diagram pengujian regulator diatas adalah sebagai berikut :

· Bagian Input

Bagian ini berfungsi sebagai sumber tegangan sebesar 220 volt AC

· Bagian Filter jala- jala

Bagian ini berfungsi untuk menyaring tegangan yang masuk dan

membuang tegangan-tegangan liar agar tetap sesuai masuk ke

penyearah. (menghindari noise)

· Bagian Penyearah

Bagian penyearah berfungsi untuk menyearahkan tegangan bolak-balik

(ac) menjadi tegangan searah (dc).

· Bagian Osilator

Bagian ini ber fungsi untuk menghasilkan gaya gerak listrik berupa

frekuensi dan gelombang.

· Bagian Transformator

Blok ini berfungsi untuk mengubah tegangan bolak-balik menjadi

tegangan searah (dc).

· Bagian Switch

Switch berfungsi untuk menghubungkan dan memutuskan jalur

tegangan antara setiap bagian.

· Bagian Pengukuran

Bagian pengukuran digunakan untuk melakukan pengujian rangkaian

regulator dengan cara melakukan pengukuran pada setiap titik yang

telah ditentukan

· Bagian Out put

Blok out put digunakan sebagai keluaran dari regulator yang telah

disuplay kesetiap bagian rangkaian dan telah ditentukan besar

tegangannya.

2.2.1 Nomor Saklar Pengujian ( SW ).

Sebelum melakukan perancangan trainer titik saklar pada rangkaian regulator televisi, terlebih dahulu kita menentukan titik jalur yang akan diputus pada rangkaian. Setelah ditentukan titik jalur pemutusan kemudian potong jalur rangkaian dengan hati-hati agar jalur-jalur yang lain tidak terganggu kemudian

sambungkan jalur yang diputus tadi dengan Switch (saklar) yang telah dipersiapkan

Dalam rancangan titik switch ini, penulis akan membatasi jumlah titik pemutusan yaitu sebanyak 13 titik switch, dan untuk memudahkan melihat tata letak penempatan saklar tersebut maka penulis membuat titik pada setiap blok rangkaian regulator.

a. Saklar pada rangkaian filter jala-jala

Pada rangkaian jala-jala titik switch dibuat satu titik yaitu pada gambar 2.2

Gambar 2.2 Rangkaian filter jala-jala di regulator televisi

· Switc 1 dibuat pada filter jala-jala yaitu switch yang menghubungkan dan memutuskan tegangan dari Fu 501 ke L 501

b. Saklar Pada Rangkaian Penyearah

Pada regulator televisi, rangkaian penyearah berfungsi untuk menyearahkan gelombang bolak-balik menjadi gelombang searah Pada rangkaian penyearah, titik switch dibuat 2 titik seperti yang ditunjukan gambar 2.3.

Gambar 2.3 Rangkaian penyearah pada regulator televisi

Keterangan dari gambar 2.3 diatas, dimana :

a dan b: sumber tegangan bolak-balik sebesar 220 Volt

d: ground

c: tegangan keluaran dari penyearah (V0)

Besar tegangan pada c dapat ditentukan dari persamaan berikut yaitu,

V0 = 220 2

= 220.1,4

= 300 Volt

d adalah sebagai ground dari keluaran penyearah

· Switch 2 dibuat untuk menghubungkan dan memutuskan tegangan dari

jala-jala ke bagian penyearah.

· Switch 3 dibuat untuk menghubungkan dan memutuskan tegangan dari

penyearah ke bagian osilator.

Bentuk gelombang masukan dan keluaran penyarah dapat kita lihat seperti gambar 2.4 dan 2.5

Gambar 2.4 Gelombang sinyal masukan penyearah

Gambar 2.5 Gelombang sinyal keluaran penyearah

c. Saklar Pada Rangkaian Osilator

Pada bagian rangkaian osilator penulis menentukan titik switch sebanyak 5 titik yaitu seperti pada gambar rangkaian 2.6.

Gambar 2.6 Rangkaian osilator di regulator televisi

Adapun keterangan rangkaian diatas yaitu:

· Switch 4 yaitu saklar yang menghubungkan dan memutuskan tegangan dari C 516 ke kaki 3 trafo switching.

· Switch 5 yaitu saklar yang menghubungkan dan memutuskan tegangan dari kaki kolektor V 543 ke L 504.

· Switch 6 yaitu saklar yang menghubungkan dan memutuskan tegangan dari R524 ke basis V543.

· Switch 7 yaitu saklar yang menghubungkan dan memutuskan tegangan dari R 519 ke kaki 1 trafo switching.

· Switch 8 yaitu saklar yang menghubungkan dan memutuskan tegangan dari C 517 ke kaki 2 trafo switching.

d. Saklar Pada Rangkaian Keluaran Regulator Televisi

Untuk rangkaian keluaran penulis menetukan titik switch sebanyak 5 titik. Ini ditempatkan pada keluaran trafo switching untuk lebih jelasnya perhatikan gambar 2.7.

Gambar: 2.7 Letak switch di rangkaian regulator

Adapun keterangan gambar rangkaian diatas adalah :

· Switch 9 yaitu saklar yang menghubungkan dan memutuskan tegangan dari keluaran kaki 10 trafo switching ke VD 552.

· Switch 10 yaitu saklar yang menghubungkan dan memutuskan tegangan dari keluaran kaki 11 trafo swicthing ke VD 553

· Switch 11 yaitu saklar yang menghubungkan dan memutuskan tegangan dari keluaran kaki 12 trafo switching ke VD 554

· Switch 12 yaitu saklar yang menghubungkan dan memutuskan tegangan dari keluaran kaki14 ke VD 555

· Switch 13 yaitu saklar yang menghubungkan dan memutuskan tegangan dari kaki 3 N551 ke kaki kolektor V 556

2.2.2 Nomor Terminal Pengukuran ( TP )

Titik pengukuran pada rangkaian regulator dibuat dengan cara menentukan terlebih dahulu titik-titik yang akan diukur, kemudian titik tersebut disambungkan ke titik pengujian yang telah dibuat, untuk menjaga keamanan pada penyambungan titik ukur, maka alangkah baiknya kita buat kabel yang tebal yang cocok dibuat untuk pengukuran, sehingga tegangan tinggi dan tegangan rendah dapat diukur dengan baik.

Dalam rancangan titik ukur ini, penulis membatasi jumlah titik yang akan diukur yaitu sebanyak 8 titik pengukuran. Titik pengukuran 1 dimulai dari masukan trafo switching dan titik pengukuran 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8 dapat kita lihat pada keluaran trafo switching. Dalam gambar rangkaian ini, letak titik pengukuran ditunjukan pada nomor dan simbol yang telah dibuat pada rangkaian. Untuk lebih jelasnya perhatikan letak titik pengukuran pada gambar 2.8.

Gambar 2.8 Letak titik-titik pengukuran

Adapun keterangan gambar diatas adalah sebagai berikut

TP adalah Titik pengukuran

a. Titik pengukuran 1 ditempatkan pada C 516 atau masukan trafo

switcing kaki ke 3

b. Titik pengukuran 2 ditempatkan pada R558 atau masukan untuk

bagian rangkaian RGB

c. Titik pengukuran 3 ditempatkan pada R556 atau masukan tegangan

untuk bagian rangkaian Horizontal out put.

d. Titik pengukuran 4 ditempatkan pada R550 atau tegangan masukan

untuk bagian rangkaian Vertikal output.

e. Titik pengukuran 5 ditempatkan pada kaki emitor VD 556 atau masukan tegangan untuk bagian rangkaian Penguat Audio / Video

f. Titik pengukuran 6 ditempatkan pada kaki 3 N551 atau masukan untuk

bagian rang kaian Oscilator Vertikal.

g. Titik pengukuran 7 ditempatkan pada R562 atau masukan tegangan

untuk rangkaian Penguat Audio Amplifier.

h. Titik pengukuran 8 ditempatkan pada C 570 atau masukan tegangan

untuk rangkaian Tuner.

Untuk mengetahui tata letak keseluruhan rancangan titik switch dan letak titik pengukuran pada rangkaian regulator televisi dapat kita lihat pada gambar rangkaian 2.9.

Gambar 2.9 Rangkaian Lengkap Saklar Pengujian dan Titik Pengukuran Regulator TV Trainer

2.3. Pengantar Pengujian dan Pengukuran Regulator

Pengujian dan pengukuran dilakukan untuk mengetahui apakah rangkaian sudah bekerja sesuai dengan yang telah direncanakan. Pengujian dilakukan setiap blok pada bagian rangkaian regulator trainer televisi. Dalam setiap pengujian dilakukan pengukuran tegangan yang nantinya digunakan untuk menganalisa gejala-gejala yang terjadi pada saat pengoperasian televisi penerima trainer.

Setelah semua saklar switching pada regulator selesai dipasang lalu kita melakukan pemeriksaan ulang pada setiap jalur rangkaian regulator yang telah diputus, apakah ada yang korslet atau tidak tersambung, ini dilakukan agar dalam pengujian dan pengukuran dapat berjalan dengan baik tanpa ada gangguan.

Adapun langkah-langkah dalam melakukan pengujian rangkaian regulator trainer ini adalah :

  1. Disiapkan alat ukur multimeter, dan alat yang dipakai dalam pengujian dikalibrasikan.
  2. Multimeter digunakan untuk mengukur tegangan pada setiap titik-titik pengukuran ( titik pengukuran 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, dan 8).
  3. Hidupkan televisi yang sudah dibuat regulator trainer dan televisi tersebut dikalibrasikan ke keadaan normal.
  4. Switch yang sudah ditentukan titik-titik pengujian pada setiap rangkaian regulator trainer ini kemudian digambarkan hasil pengujian dari setiap titik-titik yang sudah ditentukan.
  5. Sambungkanlah kembali semua switch dalam keadaan ON (hidup) dan diukur tegangan pada setiap titik-titik yang sudah ditentukan.

2.3.1 Pengujian dan Pengukuran Regulator

Adapun hasil yang diperoleh dari pengujian setiap titik switch adalah sebagai berikut:

a. Pengujian pada switch 1

Apabila switch 1 diputus maka tegangan tidak masuk ke bagian jala-jala

sehingga bila diukur pada R 501 maka besar tegangan 0 volt

b. Pengujian pada switch 2

Bila saklar switch 2 diputus maka tegangan ke penyearah adalah 0 volt

Tegangan hanya sampai pada C 501 yaitu sebesar 220 Volt ac.

c. Pengujian pada Switch 3

Pengujian pada switch 3 apabila saklar diputus maka tegangan ke bagian

osilator tidak masuk sehingga bila diukur pada bagian osilator tegangan

menjadi 0 Volt sedangkan besar tegangan pada penyearh adalah sebesar

300 Volt dc

d. Pengujian pada Switch 4

Apabila switch 4 diputus maka tegangan tidak masuk ke kaki 3 trafo

switching sehingga trafo switching belum dapat bekerja, tetapi tegangan

pada osilator sudah masuk. Yaitu pada R520 sebesar 300 Volt.

e. Pengujian pada Switch 5

Pada pengujian 5 bila switch diputus maka tegangan belum stabil masuk

ke kaki 7 trafo switching sedangkan tegangan di bagiaqn osilator sudah

normal.

f. Pengujian pada Switch 6

Bila switch 6 diputus maka tegangan tidak masuk ke transistor switching,

sehingga tansistor switcing tidak bekerja, maka rangkaian belum dapat

beroperasi. Tegangan di osiltor belum normal.

g. Pengujian pada Switch 7

Bila switch 7 diputus maka tegangan tidak masuk ke kaki 1 trafo switching

sehingga trafo switching belum dapat bekerja, sedangkan pada osilator

tegangan sudah normal.

h. Pengujian pada Switch 8

Bila switch 8 diputus maka tegangan di osilator normal tetapi tidak masuk

ke kaki 2 trafo switching.

i. Pengujian pada Switch 9

Apabila Switch 9 diputus, maka tegangan tidak masuk ke VD552

sehingga besar tegangan di R 558 adalah 0 Volt, sedangkan dibagian lainya

tegangan sudah normal..

j. Pengujian pada Switch 10

Apabila Switch 10 tidak disambungkan maka tegangan tidak masuk ke

VD 553 sehingga bila diukur besar tegangan adalah 0 Volt.

k. Pengujian pada Switch 11

Pengujian pada saklar 11, bila saklar diputus maka tegangan tidak masuk

ke VD 554 sehingga bila diukur maka besar tegangannya adalah 0 Volt.

l. Pengujian pada saklar 12

Bila saklar 12 diputus maka tegangan tidak masuk ke VD 555 sehingga

bila diukur pada B2 maka besar tegangannya adalah 0 Volt .

m. Pengujian pada saklar 13

Bila saklar 13 diputus maka tegangan tidak masuk ke capasitor V 556

sehingga bila diukur teganganny 0 Volt

Setelah melakukan beberapa pengujian dari keseluruhan rangkaian regulator diatas, maka dapat dijelaskan bahwa setiap bagian-bagian pada regulator harus saling bekerja sama agar regulator dapat bekerja sesuai dengan fungsinya.

2.3.2 Hasil Pengujian dan Pengukura Regulator

Pengujian rangkaian dilakukan dengan melakukan pengukuran tegangan pada setiap titik-titik pengukuran yang telah ditentukan, ini dilakukan untuk membuktikan apakah rangkaian yang sudah dibuat titik-titik pengsaklaran dapat bekerja sesuai dengan yang direncanakan. Adapun hasil pengukuran yang telah diuji seperti tabel ini:

Titik Pengukuran (TP)

Besar tegangan

Letak Pengukuran

Titik Pengukuran 1

300 Volt dc

Bagian masukan trafo switching kaki 3

Titik Pengukuran 2

180 Volt dc

Bagian RGB

Titik Pengukuran 3

130 Volt dc

Bagian FBT

Titik Pengukuran 4

24 Volt dc

Bagian Vertikal out put

Titik Pengukuran 5

5 Volt dc

Bagian Penguat audio Video

Titik Pengukuran 6

17 Volt dc

Bagian Penguat audio Amplifier

Titik Pengukuran 7

5 Volt dc

Bagian Osilator Horizontal

Titik Pengukuran 8

5 Volt dc

Bagian Program

Setelah melakukan beberapa pengukuran pada rangkaian televisi maka dapat dijelaskan bahwa dalam menjalankan fungsi setiap bagian rangkaian televisi, tegangan yang dibutuhkan berbeda-beda besar tegangannya. Perhatikan pada hasil pengukuran diatas bahwa bagian yang memerlukan tegangan yang paling besar adalah bagian masukan RGB yaitu sebesar 180 volt.

BAB III

SISTEM RGB TRAINER TV MEREK HUIJIA

3.1. Sistem RGB Trainer

Sistem RGB Trainer TV Merek Hujia ini, diawali dengan blok diagram dari rangkaian RGB Trainer TV tersebut. Dimana tiap-tiap blok berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya. Diagram blok merupakan salah satu cara yang paling sederhana untuk menjelaskan cara kerja dari suatu sistem dan memudahkan untuk melokalisir kesalahan dalam suatu sistem. Diagram blok dapat juga menganalisa cara kerja rangkaian yang akan dibuat secara umum. Diagram blok merupakan pernyataan hubungan yang berurutan dari satu atau lebih komponen yang memiliki satu kesatuan kerja tersendiri seperti ditunjukkan pada gambar 3.1.


Tabung

Power Suplay


Gambar 3.1. Blok Diagram RGB Trainer

Adapun fungsi masing-masing blok diagram pada RGB trainer ini antara lain sebagai berikut :

F Blok Generator RGB

Blok generator RGB ini berfungsi untuk mengirimkan sinyal warna yang akan diproses pada rangkaian RGB. Generator RGB ini akan mengirimkan sinyal warna pada rangkaian RGB.

F Blok Catu Daya

Blok catu daya ini berfungsi untuk memberikan tegangan ke setiap Blok rangkaian agar dapat melakukan pengujian rangkaian dengan melakukan pengukuran tegangan pada titik pengukuran yang sudah ditentukan.

F Blok RGB

Blok RGB ini berfungsi untuk menguatkan sinyal warna yang diterima dari IC 76818A untuk mendapatkan output sinyal yang baik.

F Blok Pengukuran

Blok pengukuran ini digunakan untuk melakukan pengujian rangkaian RGB dengan melakukan pengukuran pada setiap titik pengukuran yang sudah dittentukan.

F CRT (Catode Ray Tube)

Blok CRT ini berfungsi untuk megubah sinyal-sinyal video dan warna dari penguat video/warna menjadi gambar yang dapat dilihat.

3.2 Generator RGB

Generator RGB merupakan komponen utama yang dipakai dalam rangkaian televisi trainer untuk mengatur segala kegiatan kerja pada rangkaian RGB televisi trainer tersebut. Generator RGB merupakan pengolah sinyal-sinyal warna yang diterima melalui pin masukan/input. Sinyal warna yang diterima dari keluaran pin 14, pin 15 dan pin 16 IC LA76818A yaitu merah, hijau dan biru akan diproses dalam generator RGB. Output dari generator RGB akan mengirmkan sinyal tersebut ke rangkaian penguat melalui saklar. Pada saat saklar dalam keadaan terhubung/ON sinyal dari generator RGB akan dilangsungkan pada penguat RGB karena sinyal keluaran dari IC LA76818A masih lemah sehingga diperkuat kembali kerangkaian penguat RGB. Rangkaian generator RGB ditunjukkan pada gambar 3.2.

Gambar 3.2. Rangkaian Generator RGB

3.3 Penguat Sinyal RGB

Rangkaian RGB merupakan suatu penguat sinyal yang berfungsi untuk menguatkan sinyal warna yang lemah yang diterima dari keluaran IC LA76818A pin 19, 20, 21 untuk diperkuat kembali. Adapun komponen yang terdapat didalam rangkaian penguat RGB ini adalah transistor, resistor, dioda dan kapasitor.

Transistor jenis NPN dipakai dalam rangkaian ini yang berfungsi untuk menguatkan sinyal warna yang sangat kecil. Sinyal warna yang dihasilkan oleh IC LA76818A pada saat televisi dihidupkan sinyal tegangannya masih kecil. Agar sinyal warna pada saat televisi dihidupkan menghasilkan sinyal tegangan berlogika tinggi maka sinyal tersebut dikuatkan dengan penguatan transistor jenis NPN.

Seperti yang ditunjukkan pada gambar 3.3. pada penguat R (Red) ini terdapat titik-titik pengukuran dan pengsaklaran dimana dalam melakukan pengujian pada rangkaian penguat ini harus dilakukan beberapa pengujian/analisa sebagai berikut :

  1. Troubleshooting

Dalam melakukan troubleshooting pada rangkaian penguat RGB ini, setiap titik-titik pengsaklaran yang sudah ditentukan dilakukan pengujian dengan cara menggunakan saklar yang sudah ditentukan yaitu SW1 s/d SW 11 yang berfungsi untuk menghubung dan memutuskan sinyal atau tegangan pada setiap titik-titik pengujian tersebut.

  1. Pengukuran tegangan

Pada rangkaian penguat RGB terdapat titik-titk pengukuran yang telah ditentukan untuk pengujian rangkaian tersebut. Untuk mengetahui tegangan yang masuk pada setiap komponen-komponen ini maka dilakukan pengukuran tegangan pada setiap titik-titik pengukuran yang sudah ditentukan yaitu TP1 s/d TP9.

Adapun titik pengsaklaran dan pengukuran tegangan pada rangkaian penguat RGB seperti ditunjukkan pada gambar 4.3.

Gambar 3.3. Rangkaian Penguat Sinyal RGB

Adapun keterangan gambar dari rangkaian penguat RGB diatas sebagai berikut :

a. Saklar atau SW

F SW1 adalah input dari R902 ke basis transistor V902

F SW2 adalah input dari R912 ke basis transistor V912

F SW3 adalah input dari R922 ke basis transistor V922

F SW4 adalah keluaran dari kaki kolektor transistor V902

F SW5 adalah keluaran dari kaki kolektor transistor V912

F SW6 adalah keluaran dari kaki kolektor transistor V922

F SW7 adalah keluaran dari kaki emitor transistor V902

F SW8 adalah keluaran dari kaki kolektor transistor V912

F SW9 adalah keluaran dari kaki kolektor transistor V922

F SW0, SW10, SW11, SW12, dan SW13 sebagai switch pengembangan

b. Titik pengukuran atau TP

F TP1 adalah input dari R902 ke basis transistor V902

F TP2 adalah input dari R912 ke basis transistor V912

F TP3 adalah input dari R922 ke basis transistor V922

F TP4 adalah keluaran dari kaki kolektor transistor V902

F TP5 adalah keluaran dari kaki kolektor transistor V912

F TP6 adalah keluaran dari kaki kolektor transistor V922

F TP7 adalah keluaran dari kaki emitor transistor V902

F TP8 adalah keluaran dari kaki kolektor transistor V912

F TP9 adalah keluaran dari kaki kolektor transistor V922

Dari rangkaian penguat RGB diatas dapat diambil persamaan dari salah satu rangkaian penguat yaitu penguat G (Green) karena rangkaian ketiga penguat sinyal warna ini sama dan bentukl rangkaian penguat sinyal warna seperti ditunjukkan pada gambar 3.4

Gambar 3.4. Rangkaian penguat G (Green)

Dari rangkaian penguat G diatas dapat diambil persamaan :

Vcc = Vc + VCE + VE

Vcc = IR917 . R917 + VCE + IR918 . R918

Vc = Vcc – (VCE + VE)

VE = IR918 . R918

VE

I R918 = _________

R9\08

3.4 Pengantar Pengujian dan Pengukuran RGB Trainer

Pengujian dan pengukuran dilakukan untuk membuktikan apakah rangkaian yang sudah dibuat bekerja sesuai dengan yang direncanakan. Pertama sekali pengujian dilakukan pada setiap rangkaian penguat RGB kemudian menganalisa hasil yang ditimbulkan dalam pengujian tersebut.

Adapun langkah-langkah dalam melakukan pengujian rangkaian RGB trainer ini adalah :

1. Disiapkan alat ukur multimeter, dan alat yang dipakai dalam pengujian dikalibrasikan.

2. Multimeter digunakan untuk mengukur tegangan pada setiap titik-titik pengukuran.

3. Hidupkan televisi yang sudah dibuat RGB trainer dan televisi tersebut dikalibrasikan ke keadaan normal.

4. Saklar yang sudah ditentukan titik-titik pengujian pada setiap rangkaian penguat RGB trainer ini kemudian digambarkan hasil pengujian dari setiap titik-titik yang sudah ditentukan.

5. Sambungkanlah kembali semua saklar dalam keadaan ON (normal) dan diukur tegangan pada setiap titik-titik yang sudah ditentukan.

3.4.1 Troubleshooting RGB

Pengujian rangkaian dilakukan dengan troubleshooting untuk membuktikan apakah rangkaian yang sudah dibuat titik-titik pengsaklaran bekerja sesuai dengan yang direncanakan. Pertama sekali pengujian dilakukan pada setiap titik-titik saklar yang sudah ditentukan.

Titik-titik pengujiannya seperti gambar 3.5

Gambar 3.5 Titik Pengujian Rangkaian RGB TV Trainer

Adapun hasil pengujian yang didapat pada titik pengujian diatas adalah sebagai berikut :

  1. Saklar 1 (R 902) diputus

Dengan diputusnya saklar 1 (R 902) warna pada layar CRT menjadi warna cyam karena tegangan pada Tr V902 dibasis tidak ada dan hasil gambar yang terjadi dilayar tabung seperti ditunjukkan pada gambar 3.6.

Gambar 3.6. layar tampak berwarna cyam

  1. Saklar 2 (R 912) diputus

Dengan diputusnya saklar 1 (R 912) warna pada layar CRT menjadi warna magenta karena tegangan pada Tr V912 dibasis tidak ada dan hasil gambar yang terjadi dilayar tabung seperti ditunjukkan pada gambar 3.7.

Gambar 3.7. Layar tampak berwarna magenta

  1. Saklar 3 (R 922) diputus

Dengan diputusnya saklar 3 (R 922) warna pada layar CRT menjadi warna kuning karena tegangan pada Tr V922 dibasis tidak ada dan hasil gambar yang terjadi dilayar tabung seperti ditunjukkan pada gambar 3.8.

Gambar 3.8. Layar tampak berwarna kuning

  1. Saklar 4 (R 908) diputus

Dengan diputusnya saklar 4 (R 908) warna pada layar CRT menjadi warna cyam karena tegangan pada Tr V902 dibasis tidak dapat dikuatkan karena tegangan dikolektor Tr V902 tidak ada dan hasil gambar yang terjadi dilayar tabung seperti ditunjukkan pada gambar 3.9.


Gambar 3.9. Layar tampak berwarna cyam

  1. Saklar 5 (R 918) diputus

Dengan diputusnya saklar 5 (R 918) warna pada layar CRT menjadi warna magenta karena tegangan pada Tr V912 dibasis tidak dapat dikuatkan karena tegangan dikolektor Tr V912 tidak ada dan hasil gambar yang terjadi dilayar tabung seperti ditunjukkan pada gambar 3.10.

Gambar 3.10. Layar tampak berwarna magenta

  1. Saklar 6 (R 928) diputus

Dengan diputusnya saklar 6 (R 928) warna pada layar CRT menjadi warna kuning karena tegangan pada Tr V922 dibasis tidak dapat dikuatkan karena tegangan dikolektor Tr V922 tidak ada dan hasil gambar yang terjadi dilayar tabung seperti ditunjukkan pada gambar 3.11.

Gambar 3.11. Layar tampak berwarna kuning

  1. Saklar 7 (Tr V902 Emitor) diputus

Dengan diputusnya saklar 7 (Tr V902 Emitor) warna pada layar CRT menjadi warna cyam karena tegangan pada Tr V902 dibasis tidak dapat dikuatkan karena tegangan diemitor Tr V902 tidak ada dan hasil gambar yang terjadi dilayar tabung seperti ditunjukkan pada gambar 3.12.

Gambar 3.12. Layar tampak berwarna cyam

  1. Saklar 8 (Tr V912 Emitor) diputus

Dengan diputusnya saklar 7 (Tr V912 Emitor) warna pada layar CRT menjadi warna magenta karena tegangan pada Tr V912 dibasis tidak dapat dikuatkan karena tegangan diemitor Tr V912 tidak ada dan hasil gambar yang terjadi dilayar tabung seperti ditunjukkan pada gambar 3.13.

Gambar 3.13. Layar tampak berwarna magenta

  1. Saklar 9 (Tr V922 Emitor) diputus

Dengan diputusnya saklar 8 (Tr V922 Emitor) warna pada layar CRT menjadi warna kuning karena tegangan pada Tr V922 dibasis tidak dapat dikuatkan karena tegangan diemitor Tr V922 tidak ada dan hasil gambar yang terjadi dilayar tabung seperti ditunjukkan pada gambar 3.14.

Gambar 3.14. Layar tampak berwarna kuning

  1. Saklar 4 (R 908) dan saklar 6 (R 928) diputus

Dengan dilepasnya saklar 4 (R 908) dan saklar 6 (R 928) warna pada layar CRT menjadi warna hijau top karena tegangan pada Tr V 902 dan 922 dicolektor tidak ada dan hasil gambar yang terjadi dilayar tabung seperti ditunjukkan pada gambar 3.15.

Gambar 3.15. Layar tampak hanya berwarna hijau

  1. Saklar 6 (R 928) dan saklar 5 (R 918) diputus

Dengan dilepasnya saklar 6 (R 928) dan saklar 5 (R 918) warna pada layar CRT menjadi warna merah top karena tegangan pada Tr V 922 dan 912 dicolektor tidak ada dan hasil gambar yang terjadi dilayar tabung seperti ditunjukkan pada gambar 3.16.

Gambar 3.16. Layar tampak hanya bewarna merah

  1. Saklar 4 (R 908) dan saklar 5 (R 918) diputus

Dengan dilepasnya saklar 4 (R 908) dan saklar 5 (R 918) warna pada layar CRT menjadi warna biru top karena tegangan pada Tr V 922 dan 912 dicolektor tidak ada dan hasil gambar yang terjadi dilayar tabung seperti ditunjukkan pada gambar 3.17.

Gambar 3.17. Layar tampak hanya berwarna biru

  1. Saklar 4 (R 908), saklar 5 (R 918) dan saklar 6 (R 928) diputus

Layar pada televisi tampak gelap akibat tegangan pada ke 3 Tr V902,V912 dan V922 dicolektor tidak ada dan hasil gambar yang terjadi dilayar tabung seperti ditunjukkan pada gambar 3.18.


Gambar 3.18. Layar tampak gelap

3.4.2 Pengujian dan Pengukuran Tegangan RGB

Pengujian rangkaian dilakukan dengan pengukuran tegangan pada setiap titik-titik pengukuran untuk membuktikan apakah rangkaian yang sudah dibuat titik-titik pengsaklaran bekerja sesuai dengan yang direncanakan. Pertama sekali pengujian dilakukan pada setiap titik-titik pengukuran yang sudah ditentukan. saklar yang sudah ditentukan.

Adapun tabel hasil dari setiap titik-titik pengukuran yang didapat sebagai berikut :

Saklar

Teg

TITIK PENGUKURAN

1

2

3

4

5

6

7

8

9

Normal

AC

4.5

4.5

4.5

DC

2

2

2

150

150

150

12

12

12

1 Off

AC

DC

0

2.1

2.1

195

150

150

12

11

11

2 Off

AC

DC

2.1

2

2.1

150

185

150

11

12

11

3 Off

AC

DC

2.1

2.1

2

150

150

185

11

11

12

4 Off

AC

DC

2

2.1

2.1

185

150

150

10

11

11

5 Off

AC

DC

2.1

2

2.1

150

185

150

11

10

11

6 Off

AC

DC

2.1

2.1

2

150

150

185

11

11

10

7 Off

AC

DC

2

2.1

2.1

210

175

175

1.8

11

11

8 Off

AC

DC

2.1

2

2.1

165

210

165

11

1.8

11

9 Off

AC

DC

2.1

2.1

2

175

175

210

11

11

1.8

1,2 Off

AC

DC

0

2

2.1

210

210

175

11

11

12

1,3 Off

AC

DC

0

2.1

2

225

175

225

12

11

12

2,3 Off

AC

DC

2.1

2

2

175

225

225

11

12

12

1,2,3 Off

AC

DC

0

2

2

185

185

185

12

12

12

4,5 Off

AC

DC

2

2

2.1

185

185

150

10

10

11

4,6 Off

AC

DC

2

2.1

2

185

150

185

10

11

10

5,6 Off

AC

DC

2.1

2

2

150

185

185

11

10

10

4,5,6 Off

AC

DC

2

2

2

185

185

185

10

10

10

7,8 Off

AC

DC

2

2

2.1

225

225

175

1.8

1.8

11

7,9 Off

AC

DC

2

2.1

2

220

175

220

1.8

11

1.8

8,9 Off

AC

DC

2.1

2

2

175

220

220

11

1.8

1.8

7,8,9 Off

AC

DC

2

2

2

225

225

225

11

11

11

3.5 Pembahasan Hasil Troubleshooting RGB

Setelah dilakukan pengujian dari pada keseluruhan rangkaian RGB dapat dianalisis bahwa apabila salah satu dari saklar 1, saklar 2 dan saklar 3 diputus/off maka pada layar akan tampil warna sekunder yaitu berupa warna cyam, magenta dan kuning. Dan apabila dalam pengujian rangkaian RGB trainer tersebut, saklar 1 dan saklar 2 diputus atau saklar 1 dan 3 diputus ataupun saklar 2 dan saklar 3 diputus akan terlihat pada layar tabung gambar warna primer yang berupa warna merah top, hijau top ataupun biru top. Jika dalam perancangan RGB ini diputus ke tiga saklar tersebut yaitu saklar 1, saklar 2 dan saklar 3 maka akan tampak pada layar tabung gambar gelap namum suara ada.

3.6 Pembahasan Pengukuran Tegangan RGB

Setelah dilakukan pengujian dari pada keseluruhan rangkaian RGB dapat dibahas bahwa apabila salah satu dari saklar 1, saklar 2 dan saklar 3 diputus/off atau saklar 1 putus/off dan saklar 2, 3 dalam posisi tersambung/on maka pada saat pengukuran test poin di TP1 tegangan yang dihasilkan lebih kecil dibandingkan dengan pengukuran di TP 2 dan TP3 karena apabila tegangan pada basis Tr V901 (2SC2688) kecil maka sinyal yang masuk tidak dapat dikuatkan akibat transistor yang digunakan pada rangkaian penguat adalah jenis NPN dimana transistor bekerja pada saat tegangan dikaki basis harus berlogika 1 atau besar. Dan apabila dalam pengujian rangkaian RGB trainer tersebut, saklar 1 dan saklar 2 diputus kemudian saklar 3 duhubungkan/on maka pada saat pengukuran test poin di TP1 dan TP2 tegangan yang dihasilkan lebih kecil dibandingkan dengan tegangan di TP 3. Jika ketiga saklar diputus yaitu saklar 1 , saklar 2 dan 3 diputus tegangan pada ketiga test poin kecil sehingga pada layar tabung gambar tampak gelap namun suara ada.

BAB IV

HORIZONTAL TRAINER TELEVISI RX MEREK HUIJIA

4.1. Sistem Horizontal FBT

Untuk memudahkan pengertian tentang sistem kerja rangkaian horizontal pada televisi Huijia Trainer ini, penulis merencanakan blok-blok diagram untuk mempermudah pengertian terhadap rangkaian horizontal Televisi trainer.

Diagram blok yang dibahas dimulai dari Output Sinkronisasi horizontal, Osilator horizontal, Driver horizontal, Output horizontal, kumparan defleksi serta Transformator Flyback untuk penghasil tegangan tinggi atau untuk lengkapnya dapat ditunjukkan seperti pada gambar 4.1.

Gambar 4.1 Blok Diagram Horizontal TV Trainer

Pada perancangan trainer ini penulis membuat titik-titik pengukuran, serta untuk mengetahui gejala yang timbul pada televisi bagian horizontal, penulis juga merencanakan pemutusan hubungan komponen maupun jalur,adalah sebagai berikut:

  • Saklar 1 pada pin 27 IC N101
  • Saklar 2 Pada Basis TR V431
  • Saklar 3 Pada Colektor TR V431
  • Saklar 4 Pada Emitor TR V432
  • Saklar 5 Pada Colektor V432
  • Saklar 6 Pada Emitor TR V432
  • Saklar 7 Pada Pin 2 FBT (B+)

4.2. Sinyal Sinkronisasi Horizontal

Rangkaian sinkronisasi memisahkan pulsa-pulsa vertikal dan horizontal dari sinyal vidio komposit kemudian melakukan penguatan satu tingkat. Pada televisi trainer rangkaian sinkronisasi telah terintegrasi dengan Chip LC863332B atau chip yang berfungsi sebagai pengontrol utama rangkaian.

Pada Televisi trainer ini ditentukan titik test uji seperti pada gambar 4.2.

Gambar 4.2.Titik Test Uji Sinkronisasi Horizontal

4.3. Penguat Penggerak Horizontal

Rangkaian osilator pada blok horizontal televisi berfungsi untuk membangkitkan pulsa-pulsa digital yang digunakan sebagai pemicu pada rangkaian output horizontal.

Pada rangkaian televisi merk fujia ini oscilator horizontal juga sudah terintegrasi dengan rangkaian AFC pada chip IC LA7681BA. Keluaran osilator horizontal dari chip akan diteruskan ke rangkaian driver horizontal. Atau untuk selengkapnya seperti ditunjukkan pada gambar 4.3.

Gambar 4.3 Rangkaian Osilator dan Hubungannya dengan Driver Horizontal

4.4. Rangkaian Horizontal

Output rangkaian horizontal adalah inti atau hsil akhir dari rangkaian horizontal, pada bagian ini output mempunyai komponen yang vital seperti transistor output horizontal yang berguna sebagai penguat dan switching untuk transformator penghasil tegangan tinggi atau yang sering juga disebut FlyBack Transformator.

Perancangan trainer output horizontal ini terdiri dari beberapa titik pengujian atau untuk lengkapnya dapat dilihat pada gambar 4.4.

Gambar 4.4. Rangkaian Horizontal

4.5. Sistem Tegangan Tinggi Defleksi Horizontal

Rangkaian ini merupakaan hasil akhir dari proses pekerjaan rnagkaian horizontal, pada perancangan ini penulis membuat titik-titik pengukuran untuk dapat mengetahui prinsip kerja dari dari bagtian defleksi horizontal.

Seperti pada penjelasan pada BAB II, bahwa rangkaian pada horizontal juga menghasilkan catu daya tegangan tinggi untuk tabung CRT pada Anoda, G2 (Screen) dan G3 (Focus).

Gambar 4.5, menunjukkan titik-titik pengukuran pada defleksi horizontal dan catu daya tegangan tinggi.

Gambar 4.5. Titik Pengukuran Catudaya Tegangan Tinggi Defleksi Horizontal

4.6. Rangkaian Lengkap Horizontal Televisi Trainer

Gambar 4.6. Rangkaian Lengkap Horizontal Televisi Merek Fuijia

4.7. Pengujian dan Pengukuran Horizontal

4.7. 1. Pengujian Horizontal TV Trainer

Pengujian dan pengukuran dilakukan untuk membuktikan apakah rangkaian yang sudah dibuat bekerja sesuai yang direncanakan. Pertama sekali pengujian dilakukan dengan pengukuran yang nantinya akan digunakan untuk menganalisa kerusakan yang ditimbulkan.

Pengujian FBT televisi penerima trainer dilakukan untuk melihat bentuk sinyal yang dihasilkan dari rangkaian horizontal televisi serta melihat besar tegangan disetiap titik pengukuran pada bagian horizontal. Langkah-langkah pengujian dilakukan dengan cara pensaklaran disetiap titik pemutusan tegangan yang telah ditentukan, dan juga bentuk sinyal yang dihasilkan horizontal dengan menggunakan osiloskop.

Adapun prosedur titik pengujian adalah sebagai berikut:

  1. Hidupkan pesawat Televisi Trainer dan pilih salah satu siaran yang bagus atau gunakan patern generator sebagai sumber siaran .
  2. Ukurlah tegangan AC, DC pada setiap titik uji dengan menggunakan voltmeter analog atau digital pada posisi normal.
  3. Hidupkan osiloskop ,hubungkan ketitik pengukuran , amati bentuk gelombang yang ditampilkan dan gambarkan dan tentukan volt/div, time/div.
  4. Sinyal H out tidak masuk kebagian Horizontal dengan jalan memutus R409, ukurlah setiap tegangan titik uji dan gambarkan bentuk gelombang pada titik pengukuran tersebut.
  5. Lakukan pengukuran tegangan pada tiap titik pemutusan tegangan untuk kondisi
    • Pin 27 Ic N101 dilepas atau off
    • Basis TR V431 dilepas atau off
    • Colektor TR V431 dilepas atau off
    • Emitor TR V431 dilepas atau off
    • Basis TR V432 dilepas atau off
    • Colektor TR V432 Dilepas atau off
    • Emitor TR V432 dilepas atau off
    • Pin 2 FBT (B+) dilepas atau off

4.7. 2. Pengujian Osilator dan Driver Horizontal

Pada gambar 4.7 telah ditentukan titik pengukuran yang akan diuji ,yang dilakukan dengan cara pemutusan sumber tegangan dengan mnggunakan saklar sebagai alat kontrol.Titik pengukuran yang dilakukan pada pengujian ini dapat melihat gejala yang ditimbulkan akibat dari pemutusan tegangan ( saklar off ).

Gambar 4.7 Titik Pengukuran Osilator dan Driver Horizontal.

Sebelum melakukan pengujian pengukuran pada bagian osilator dan driver horizontal terlebih dahulu harus diketahui besar tegangan pada setiap titik pengukuran televisi penerima trainer pada posisi normal, yang dapat dilihat pada tabel 4.1

Tabel 4.1. Hasil Pengukuran Rangkaian Horizontal Pada Posisi Normal

Tabel 4.2. Hasil Pengukuran Rangkaian Osilator Horizontal

Pada pengujian pengukuran osilator horizontal ini ataupun titik pengukuran yang dilakukan pada setiap pemutusan tegangan yang menggunakan saklar dapat kita lihat gejala yang ditimbulkan pada pada tabel diatas.Gejala yang ditimbulkan akibat dilakukan pemutusan tegangan (saklar off) pada bagian osilator horizontal adalah telivisi mati total, lampu filament tidak hidup dan led indikator hidup karena osilator horizontal merupakan pulsa digital yang telah terpadu pada integrated circuit ( IC ) untuk membangkitkan rangkaian horizontal terputus melalui ( saklar 1 off ) maka pemicu horizontal tidak bekerja akibatnya rangkaian driver horizontal tidak mendapat sinyal pemicu untuk menggerakan rangkaian horizontal out yang merupakan pensuply tegangan tinggi.

4.7. 3. Pengujian Output Horizontal

Pada bagian ini merupakan adalah inti hasil akhir dari rangkaian horizontal yang merupakan penguat dan switching untuk transformator penghasil tegangan tinggi atau flyback.Titik pengukuran output horizontal dapat ditunjukan pada gambar 4.8

Gambar 4.8. Titik Pengujian Output Horizontal

Dari gambar 4.2 adapun hasil pengukuran dapat dilihat pada tabel 4.3

Tabel 4. 3. Hasil Pengukuran Rangkaian Output Horizontal

Hasil pengukuran dititik pengukuran 2, 3 dan 4 merupakan pengukuran pada saat adanya sinyal yang diterima dari sinyal driver penggerak horizontal hingga pada saat titik pengukuran dilakukan pemutusan pada ( saklar 2, 3, 4 ) sehinga sinyal penggerak dan tegangan yang akan memperkuat rangkaian horizontal output tidak dapat bekerja dan ini menyebabkan televisi mati total.

4.7. 4. Pengujian Tegangan Tinggi Horizontal

Bagian ini merupakan hasil akhir dari proses pekerjaan rangkaian horizontal yang diuji dalam dalam hal pengukuran besar tegangan, seperti yang ditunjukan pada gambar 4.9

Gambar 4.9 Pengujian Tegangan Tinggi Flyback

Data hasil pengujiian dan pengukuran pada tegangan tinggi flyback transformator dapat dilihat pada tabel 4.4

Tabel 4.4 Hasil Pengukuran Tegangan Tinggi Flyback

Hasil pengamatan maupun analisa bila dilakukan pemutusan pada tiap titik pengukuran pada tegangan tinggi yang terdapat pada bagian flyback:

  • Tegangan pada kumparan defleksi diputus (saklar 1 off )

Gejala yang ditimbulkan berupa led indikator menyala, filament hidup, layar gelap dan suara ada.

  • Tegangan pada Heater diputus ( saklar 2 off )

Akibat yang ditimbulkan ialah sinar filament tidak hidup, led indikator hidup suara normal tanpa ada gambar atau layar gelap.

  • Tegangan Screen ( G2 ) dilepas (saklar 3 off )

Akibat yang ditimbulkan pada televisi penerima adalah gambar pada layar gelap, sinar filament hidup, suara normal, program bekerja dengan baik dan timbul garis blanking.

  • Tegangan Fokus ( G3 ) dilepas ( saklar 4 off )

Akibat yang ditimbulkan pada televisi penerima adalah suara normal dengan gambar kurang fokus dan program bekerja dengan normal

4.7. 5. Hasil Pengujian Sinyal Horizontal Output

Setelah dilakukan pengujian pada bagian sinkronisasi horizontal dapat dilihat bentuk gelombang seperti yang ditunjukkan pada gambar 4.10 yang merupakan sinyal sinkronisasi horizontal yang dihasilkan dari Integrated Circuit ( IC ) LA76818A yang melalui pin 27.Sinyal pulsa Horizontal ini yang merupakan kontrol kerja tidaknya rangkaian horizontal dan juga tegangan tinggi flyback.

Gambar 4.10 Bentuk Gelombang Sinyal Keluaran Horizontal

Dimana : Time / Div = 5V , Volt / Div = 0,5 Ms

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Setelah selesai dilakukan penulisan bahan ajar yang berjudul “Sistem Televisi Penerima dan Penuntun Praktek TV Trainer”, dan perancangan TV trainer, maka penulis menyimpulkan sebagai berikut :

1. Ketiga penguat pada sistem RGB trainer bekerja dengan baik maka warna yang dihasilkan pada tabung CRT sesuai dengan warna gambar aslinya.

2. Bila salah satu dari rangkaian penguat RGB tidak bekerja maka pada layar CRT menghasilkan warna sekunder.

3. Ketiga rangkaian penguat RGB tidak bekerja maka pada layar CRT tampak gelap.

4. Kerusakan yang sering terjadi pada bagian regulatior adalah pada transistor regulator

5. Memakai Televisi Trainer dapat mempercepat pemahaman sipeserta praktek melakukan pengukuran, pemeriksaan, dan perbaikan pada bagian bagian televisi penerima, yang selama ini dalam proses perbaikan televisi sulit dilakukan karena tidak mengetahui lokasi kerusakan sesuai dengan indikator-indikator kerusakan.

6. Horizontal Trainer Televisi Penerima dapat mengontrol tegangan untuk melihat gejala kerusakan apabila terjadi pemutusan saklar dan ini merupakan proses kerja yang praktis dibanding dalam proses pekerjaan perbaikan horizontal televisi penerima yang telah banyak beredar dimasyarakat.

5.2. Saran

Adapun saran-saran penulis buku bahan ajar ini adalah sebagai berikut :

1. Agar tidak terjadi kesalahan kinerja Sistem RGB, Regulator, FBT, Audio TV Penerima pada televisi penerima merek yang lain lakukanlah pekerjaan tersebut sesuai dengan prosedur perbaikan yang benar.

2. Melakukan praktek RGB, Regulator, FBT, Audio, Video dan lain-lain ada TV trainer ini harus sesuai dengan prosedur/langkah-langkah praktek.

3. Setiap selesai melakukan pengujian dan pengukuran harus selalui dikembalikan posisi saklar pada kondisi ON.

4. Pelajari dengan seksama buku bahan ajar ini baru lakukan percobaan pada TV trainer.

DAFTAR PUSTAKA

Haryadi Ichwan, Desember 1981, Televisi Berwarna, Malang, Yayasan Pengembangan Ilmu Pengetahuan.

Nazaruddin Ramdani, Februari 2006, Komputer dan Troubleshooting, Bandung, Informatika Bandung.

Sutrisno, 1986, Elektronika Teori dan Penerapannya, ITB Bandung.

Walter H. Buchsbaum, Sc.D, 1999, Paduan Reparasi TV Lengkap, Jakarta, PT. Elex Media Komputindo.

Wasito, Juli 1979, Elektronika Teknik Televisi Warna Teori dan Menyervisnya, Jakarta, Karya Utama.

Yoshikatsu Sawamura, Ir. Reka Rio, !999, Teknik Reparasi Televisi Berwarna, Jakarta, PT. Pradnya Paramita.

SOAL DAN ENYELESAIAN

  1. Televisi tidak hidup sama sekali maksudnya led indikator tidak hidup, suara dan gambarpun tidak ada, bagian mana yang rusak serta bagaimana langkah-langkah urutan perbaikannya dilakukan ?.

Jawab dan Pembahasan

Yang rusak adalah arus listrik tidak masuk kebagian regulator, maka diadakan pengukuran:

a. sumber tegangan listrik pada stop contack diukur dengan memakai voltmeter AC, hasil pengukuran harus menunjukkan 220 volt AC.

b. kalau sumber tegangan listrik 220 volt ada pada stop contack maka dilanjutkan pengukuran tegangan listrik dibagian masukan sekering, bila tidak ada berarti rusak bagian kabel cok tegangan AC nya.

c. kalau sumber tegangan 220 volt ada dibagian masukan sekering namum dibagian keluarannya tidak ada tegangan 220 volt berarti yang rusak bagian sekeringnya.

d. kalau tegangan keluaran disekering ada 220 volt AC namum keluaran dibagian dioda jembatan tidak ada tegangan sebesar 308 volt DC berarti yang rusak bagian dioda jembatan.

e. kalau tegangan yang keluar dari dioda jembatan sebesar 308 volt DC maka led indikator catu daya ( rgulator ) sudah pasti hidup dengan catatan led masih bagus.

  1. Led indikator catu daya hidup namun monitor televisi masih tetap gelap dan suarapun belum ada, maka yang rusak dibagian mana ?

Jawab dan Pembahasan

Yang rusak bagian regulator maka perlu diadakan pengukuran tegangan keluaran dibagian trafo switching. Bila tegangan 308 volt DC ada masuk ke trafo switching namun dikeluarannya tidak ada berarti yang rusak pada umumnya transistor daya. Pada umumnya badan transistor daya ini dipasang menempel/dibaut ke aluminium, fungsi aluminium disini sebagai pendingin. Transistor daya yang dicurigai rusak diukur dengan memakai ohmmeter untuk mengetahui bagus atau rusak.

Besaran tegangan yang keluar dari trafo switching adalah:

a. Tegangan 110 volt – 190 volt yang langsung dihubung ke Fly Back Transformator ( FBT ). Tegangan trafo switching yang dihubungkan ke FBT bervariasi tergantung kepada ukuran Televisinya.

b. Tegangan 24 volt atau 12 volt dipergunakan sebagai catu daya bagian audio.

c. Tegangan 5 volt dipergunakan untuk catu daya bagian mikrokontroler ( IC yang besar ).

  1. Diukur ada tegangan masukan ke FBT namun layar monitor masih tetap belum hidup berarti yang rusak dibagian mana ?

Jawab dan Pembahasan

Yang kemungkinan rusak:

a. FBT maka perlu diukur keluarannya dengan memakai alat ukur high voltage. Kalau alat ukur high voltage belum ada maka secara praktis dapat ditest dengan cara melepaskan ujung FBT dari tabung dan dijauhkan dari mesin. Setelah dilepas dan disisihkan menjauh dari tabung maupun mesin maka diadakan pengujian. Bila FBT masih bagus maka pada saat ditest akan mengeluarkan elektron-elektron berupan percikan api.

b. Senapan elektron ( Filamen ), perhatikan filamen apakah telah memijar atau belum. Kalau filamen belum memijar maka diukur tegangan masukannya harus ada 12 volt AC. Kalau tegangan ada sebesar 12 volt AC dikaki filamen namun belum juga memijar berarti komponen ini telah putus.

c. Yoike, tegangan ke yoike diperiksa apakah sudah ada sebesar 200 volt atau 400 volt tergantung ukuran televisi. Semakin besar ukuran televisi semakin besarlah tegangan masukan ke Yoike.

  1. Tabung mengeluarkan raster ( bintik-bintik cahaya ) namun siaran belum ada dan diperiksa antena tersambung dengan benar serta kanal penerimaan sudah diubah-ubah tetap juga hanya raster yang muncul ditabung, berarti yang rusak dibagian mana dan sebutkan langkah-langkah perbaikannya?

Jawab dan Pembahasan

Buha

  1. Ditabung hanya nampak garis cahaya mendatar dari kanan ke kiri membentang, berarti yang rusak dibagian mana dan sebutkan langkah-langkah perbaikannya?

Jawab dan Pembahasan

Hengky

  1. Ditabung hanya nampak garis cahaya membentang dari atas ke bawah, berarti yang rusak dibagian mana dan sebutkan langkah-langkah perbaikannya?

Jawab dan Pembahasan

Sianturi

  1. Suara diloudspaker dan cahaya di tabung ada namun gambar tidak muncul berarti yang rusak dibagian mana dan sebutkan langkah-langkah perbaikannya?

Jawab dan Pembahasan

Santoni

  1. Gambar dengan sempurna muncul di tabung namun suara tidak ada, berarti dibagian mana yang rusak dan sebutkan langkah-langkah perbaikannya?

Jawab dan Pembahasan

Zebua

  1. Gambar muncul di layar namun terbalik atau miring berarti yang rusak dibagian mana dan sebutkan langkah-langkah perbaikannya?

Jawab dan Pembahasan

Pande

  1. Gambar ada namun layar tidak penuh, berarti yang rusak dibagian mana?
  2. Gambar ada namun salah satu warna atau hilang semua hilang atau menjadi hitam putih, berarti yang rusak dibagian mana?
  3. Gambar dan suara muncul dengan sempurna namun kadang-kadang mau menembak-nembak ( krek ) seakan-akan mau mati, berarti yang rusak dibagian mana dan bagaimana cara memperbaikinya?

Mereparasi TV Berwarna

By : Mr. Widodo Budiharto

Pendahuluan

Mereparasi TV berwarna membutuhkan pengetahuan yang memadai, Anda harus pernah memiliki pengalaman di dalam menggunakan alat ukur dan membongkar perangkat elektronika. Terlebih dahulu Anda juga harus sudah memahami konsep TV Berwarna pada bab sebelumnya.

Mereparasi TV Berwarna

Mengecek Power Supply

Percayalah, 70% kerusakan pada TV dapat dengan mudah dilacak mulai dari Power Supply TV tersebut, karena keluaran dari power supply tersebut terhubung ke bagian yang sering rusak, antara lain penguat horizontal, flyback dan suara. Berikut langkah-langkah reparasi power supply dan troubleshooting:

1. Kalau TV mati, cek kabel AC apakah putus atau tidak menggunakan multitester. Jika tidak putus, cek tegangan di PCB, jika tidak ada periksa fuse.

Gambar 5.1 Mengukur tegangan power supply

Gambar di bawah ini menampilkan kapasitor yang menyimpan muatan besar hingga 300V, sangat berbahaya jika masih ada muatan jika disentuh, pastikan Anda kosongkan dulu.

Gambar 5.2 Fuse bisa saja putus

2. Jika ada tegangan, ukur tegangan keluaran dari dioda bridge ke kapasitor, tegangan harus ada sekitar 300V DC, jika tidak ada berarti dioda bridge rusak/putus. Dioda bridge dapat dites dengan mencopot terelbih dahulu, lalu diukur nilai hambatan pada diode tersebut dengan polaritas pengukuran dibolak balik.

Gambar 5.3 Mengukur Elco harus sekitar 300V DC

Gambar 5.4 Dioda bridge dan Elco 400V

3. Ukur transistor FET sebagai penguat catu daya, atau bisa dari STR seperti STR F6654. Ukur basis harus ada sekitar 0.5-1V AC. Kalau bagus berarti kemungkinan trafo converternya rusak. Kerusakan trafo dapat diganti dengan pesan ke teknisi untuk gulung ulang. Umumnya merek standar ada gantinya.

Gambar 5.5 Trafo converter

4. Ukur gulungan sekunder di B+ harus ada 115V DC untuk menggerakann flyback, ciri lain transistor horizontal ialah adanya kapasitor 160V. TV Sekarang kalau mati penyebabnya tidak harus power supply, tetapi horizontal juga bisa.

5. Kerusakan transistor horizontal pada TV tertentu ditandai dengan lampu pilot/standby. TV sekarang juga ada sumber catu daya dari flyback.

6. Ukur transistor penguat horizontal di kolektor. Lalu ukur lagi di basis. Basis harus ada 0.5-1VAC dari osilator. Kalau ada tapi mati bisa jadi transistor horizontal rusak. Kalau transistor bagus tapi masih mati, kemungkinan flyback rusak. Tegangan 115 Vjuga buat flyback. Jika masih mati padahal tegangan betul, maka copot transitornya ukur transistor tsb, biasanya transistornya shorted.

Gambar 5.6 Mengukur tegangan transistor Horizontal

7. Ukur flyback dengan cara flyback dilepas ukur gulungan flyback dari B+ terhadap ground flyback, flyback yang bagus harus tidak shorted.

Gambar 5.7 Mengukur flyback

8. Output trafo converter buat rangkaian horizontal sebesar 115V DC, suara, 24V buat vetikal(tv tertentu ada yang 12V ganda simetris), dan 12V buat catu daya umum.

9. Jika cuma garis horizontal yang tampil , yang rusak ialah bagian penguat vertikal. Ukur catu daya 24V vertical tadi. Ukur elco di IC vertikal tersebut, misal TA8403. Ukur juga dioda dan resistor juga. Kalau bagus juga kemungkinan IC nya rusak, atau ada resistor daya yang putus. Ukur yoke harus ada tahanan, dan kabelnya terpasang dengan benar. Kalau tidak kemungkian osilator buat vertical tidak bekerja. IC osilator contohnya Toshiba TB 1238AN, LA76818A dan TDA9351PS. Ada juga yang komplit dengan IC program contoh IC Toshiba 8803CPANG

Mengukur Suara

1. Mengukur suara, urut dari speaker, soket, pasti ada IC yang pakai pendingin, itu adalah IC suara, namun chassis murah jug ada yang IC amplifiernya sudah terpaket dalam IC TV utamanya. Ukur speakernya dulu apakah short .

2. Ukur catu daya 12-20V DC. Jika bagus, berarti Cek IC osilatornya. Contoh ic suara Toshiba TA8256BH.

3. Untuk menyatukan warna, putar konvergen, yang dapat mengatur horizontal, vertical, dan magnet puritas.

Mengecek IC Program

1. Ceklah IC program seperti IC 87CM38 dan 24C04, untuk bagian setingnya mulai dari menu, fitur dll.

2. JIka tidak ada gambar, tetapi raster (bintik –bintik) ada, periksa antena. Apakah sudah diisi belum channelnya. Jika tidak dapat menangkap siaran, bisa jadi tunernya yang rusak (umumnya 8 kaki).

3. Jika sinyal Video AV tidak tampil, bisa jadi IC switch AV rusak, contohnya HCF4052B.

Gambar 5.9 IC Program dan IC memory 24c08

Mengecek Tampilan TV

1. Jika TV gelap , suara ada, periksa soket CRT, periksa juga heater di kaki 3 dan 4 pada tabung besar harus ada tegangan3-5v AC. Periksa juga Grid 2 di flyback, ukurlah, harus ada 400V DC.

Gambar 5.10 konektor ke CRT

2. Jika ada gambar ada tapi tidak berwarna, maka periksa khroma dengan mengganti Kristal 4.45 MHz. Jika masih tetap juga coba ganti IC osilatornya. Pada motherboard TV, biasa terdapat PTC untuk menghilangkan medan magnet, kalau tidak nanti warna belang belang. Untuk mengatur warna RGB, terdapat penguat video RGB, jika rusak bisa jadi cirinya satu warna hilang. Jika bagus, bisa jadi IC osilatornya rusak.

Transistor penguat RGB sering rusak, seperti gambar di bawah, untuk TV/monitor terbaru kualits tinggi biasanya sudah menggunakan IC penguat.

Gambar 5.12 Penguat Video RGB

Trik cerdas mereparasi TV Berwarna:

1. Jika TV mati, ukur langsung ke transistor daya dan Transistor horizontal, langsung copot tranasitornya, terus ukur. Jika ternyata transitor kaki kolektornya dilepas, terdapat tegangan normal, besar kemungkinan transistornya shorted.

2. Jika suara mati sentuh kaki input amplifier, jika tidak bunyi beep kencang, besar kemungkinan IC amplifiernya jebol, jika bunyi beep kencang, bisa jadi IC osilatornya atau tuner rusak.

3. Jika gelap gak ada gambar, cek heater, grid 2 harus ad 400V DC. Kalau ada suara gak ada gambar, coba cek tuner.

Gambar 5.13 Mengukur tabung

4. Jika layar blank, putih saja, suara ada, bisa jadi IC Osilator atau IC Program.

5. Jika ada masalah dengan tuner, ukur tegangan VT harus ada dari 0-30VDC dengan menjalankan program tuning, pasti ada perubahan tegangan pada kaki VT, jika tegangan bagus masih gak muncul, ganti segera tuner.

Gambar 5.14 Tuner TV standar 8 kaki

6. Jika AV tidak tampil, biasanya IC HCF4052BE rusak.

Gambar 5.14. IC HCF4052BE untuk AV

7. Jika gambar tidak focus, atau agak gelap, putarlah focus pada flyback, atau putarlah screen untuk menguatkan tampilan TV.

Gambar 5.15 Memutar Fokus pada flyback

8. Pastikan jika Anda ingin mencopot flyback, tegangan sudah dikosongkan dengan cara menghubungkan ke body tabung (ground) (Jangan ke ground board Anda!), dan gunakan tang atau ujung pin multitester untuk mencopotinya.

Gambar 5.16 Mencopot kabel flyback

Langkah-langkah diatas merupakan langkah umum berdasarkan pengalaman penulis dan rekan Gery Tulip di dalam mereparasi TV, kadang kala juga terjadi kerusakan kecil saja seperti pada kapasitor, resistor atau dioda, oleh karena itu dibutuhkan kesabaran dan keuletan Anda untuk mengecek komponen komponen pasif tersebut jika ternyata komponen utama yang dicurigai tidak terbukti rusak.

Latihan:

1. Ukurlah besar tegangan pada transistor penguat daya dan penguat horizontal TV Anda.

2. ...

MILIKI ISI LENGKAP ARTIKEL INI PADA BUKU BERJUDUL :

TRIK CERDAS REPARASI TV/AUDIO/VIDEO PLAYER
TERBIT MARET 2009, ELEXMEDIA KOMPUTINDO

PESAN KE DESY@ELEXMEDIA.CO.ID atau WIDODO@WIDODO.COM

0 komentar: